Source

Reading is What Brings Us Together, Not What Tears Us Apart

Very recently I’ve just had an upsetting experience which led to a decision to quit a book community. This was because one person within the community insists upon greeting fellow members in a certain religion’s way (this person did this not once or twice but daily, and it’s not a simple greeting), and even sometimes […]

Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not?😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka).:)

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem.😄 Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Wishful Wednesday (31)

wishful-wednesday1Okeeee saya tahu ini hari Kamis, tapi karena kemarin saya cuti dan nggak sempat buka laptop, maka ijinkan saya posting Wishful Wednesday hari ini ya.

Meme Wishful Wednesday ini ternyata udah masuk post yang ke-200, lho. Woah, congratulations! Siapa tau saya kecipratan hoki bisa dapet giveaway dalam rangka WW ke-200 ini, jadi berikut ini buku yang jadi wishlist saya:

cinta semanis racun

Foto: Penerbit Diva Press

Sinopsis (dari Goodreads.com):

Antologi ini memuat 99 cerpen terjemahan karya 99 pengarang terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman, dari sastrawan klasik semacam Leo Tolstoy hingga pengarang masa kini berusia awal 40-an serupa Liliana Blum. Lebih dari dua per tiganya, tepatnya 74 di antara 99 cerpen, pernah dipublikasikan sebelumnya di 20 media cetak nasional dan daerah.

Dalam antologi ini, kita bisa membaca pula jejak pencapaian para pengarang terkemuka di berbagai belahan dunia dan zaman. Dari para empu Eropa seperti Anton Chekov, Fyodor Dostoyevsky, Emile Zola, James Joyce, dan Franz Kafka hingga para maestro Amerika Latin semacam Jorge Luis Borges, Jorge Cortazar, Carlos Fuentes, Isabel Allende, dan Roberto Bolano. Tak ketinggalan juga para kampiun Nobel Sastra serupa Gabriel Garcia Marquez, Octavio Paz, Nadine Gordimer, Gao Xingjian, dan Mo Yan. Suara-suara utama masa kini dalam pentas sastra dunia antara lain diwakili oleh Horacio Castellanos Moya (pengarang Honduras yang disebut-sebut World Literature Today layak meraih Nobel Sastra), Etgar Keret (penulis Israel yang menarik perhatian dunia), dan Haruki Murakami (novelis laris yang berkali-kali menjadi kandidat pemenang Nobel Sastra).

Aku segera menyelesaikan dinding itu. Kurapatkan batu terakhir pada tempatnya. Lalu aku merekatkannya dengan semen. Terakhir, aku menumpuk belulang menutupi dinding baru itu. Hingga setengah abad tak seorang pun mengusik mereka. Beristirahat dengan damai! –Anggur Amontillado, Edgar Allan Poe

632 halaman, hardcover. Dikuratori dan diterjemahkan oleh salah seorang penerjemah favorit saya. Banyak nama pengarang di dalamnya yang termasuk pengarang klasik. Jadi, nampaknya memang ini buku yang wajib saya koleksi, walaupun kemungkinan besar bakal ditimbun dulu enggak langsung dibaca sampai habis. Harga aslinya Rp 155.000, tapi jika preorder sampai dengan tanggal 18 Agustus 2016 (informasi preorder di link ini) bisa membeli buku ini dengan harga Rp 124.000 (masih diatas harga maksimal hadiah WW yak, nanti selisihnya aku ganti deh :D).

Semoga saya beruntung!:)

N.B.: kamu juga bisa ikutan Giveaway dalam rangka WW ke-200 ini, sampai dengan hari Senin, 25 Juli 2016. Cek informasi lengkapnya di sini.

Coloring Book for Adults: FANTASIA – Nicholas F. Chandrawienata

anti-stress-coloring-book-for-adults---fantasiaBukan untuk kali pertama saya menulis review buku mewarnai di blog ini, karena sebelumnya saya pernah mempost review Coloring Book for Adults: BATIK yang dihadiahkan oleh Secret Santa BBI pada akhir tahun 2015 yang lalu.

Nah kali ini, saya ingin mereview buku mewarnai terbitan dalam negeri yang berjudul FANTASIA. Fantasia ini merupakan buku mewarnai favorit saya sejauh ini (saya punya 7 buku mewarnai) dan karena itulah saya merasa ada yang kurang kalau saya belum menuliskan reviewnya, dan membagi kesenangan ini dengan teman-teman sekalian.:)

Mari simak Kata Pengantar dalam buku ini:

Semua perkembangan dan kemajuan yang dialami umat manusia berawal dari fantasi.

Fantasi adalah berkat yang diberikan Yang di Atas untuk semua umat manusia.

Sejak kecil kita berfantasi tentang makhluk-makhluk khayalan. Sampai akhirnya makhluk fantasi manusia seperti unicorn, peri, dan naga mendunia dan dikenal banyak orang.

Di dalam buku ini bisa Anda temukan berbagai makhluk fantasi seperti burung phoenix, chimaera, sampai kurcaci. Saya berharap buku ini bisa membantu untuk melepas stres, juga memberikan inspirasi kepada Anda.

Mari kita bersama membangkitkan lagi naluri untuk berfantasi seperti anak kecil. Karena dengan berfantasilah kita sebagai manusia bisa terus berkembang.

Mari berfantasi dan mewarnai!

Faktor utama yang membuat kamu harus punya buku ini adalah ilustrasi-ilustrasi keren karya Nicholas F. Chandrawienata (@nickfilbert) yang mengisi ke-64 halaman buku ini. Menurut saya, style gambarnya khas, garis-garisnya kuat, dan nggak kalah dengan hasil karya para illustrator luar negeri. Dan dari beberapa kali saya mengupload hasil mewarnai buku Fantasia di Instagram, ada beberapa orang (bukan orang Indonesia) yang menanyakan dimana bisa beli buku ini.

Covernya memang terlihat gahar, tapi sebenarnya isinya cukup beragam mulai dari ilustrasi-ilustrasi yang cenderung girlie seperti gambar peri, malaikat, putri duyung dan putri oriental, atau yang cenderung maskulin seperti gambar naga, dewa Zeus, dan bajak laut. Beberapa gambar lain berkesan seram, misalnya gambar scarecrow, tengkorak, dan anjing berkepala tiga. Gambar tiga burung hantu dan magician malah berkesan cute, dan Nick juga menyelipkan dua halaman bergambar Barong Bali dan Garuda sehingga ada sedikit cita rasa Indonesia di buku ini. Salah satu plusnya lagi, detail pada ilustrasi-ilustrasi di buku ini tidak terlalu kecil-kecil jelimet seperti di kebanyakan buku mewarnai, yang malah bisa membuat tambah stres bukannya mengusir stres. Ada beberapa halaman di mana sang illustrator mengajak pewarna untuk menambahkan detail, misalkan di gambar naga dan rusa jantan. Selain itu, kamu bebas berkreasi dan menambahkan detail sendiri jika mau.

Selanjutnya sneak peek beberapa halaman isi buku Fantasia bisa dilihat di gallery di bawah ini. Klik di salah satu thumbnail untuk tampilan gallery, Esc untuk kembali ke post.

Ketebalan kertas cukup memadai untuk mewarnai dengan media pensil warna atau crayon, namun hati-hati jika menggunakan spidol/connector pens, pensil warna water soluble dan cat air, karena bisa tembus ke belakang. Perlu diketahui juga bahwa halaman-halaman di buku ini dilengkapi pattern yang memudahkan untuk menyobek halaman, namun bagi mereka yang tidak ingin menyobek halaman hal ini bisa jadi masalah.

Dan berikut ini adalah beberapa hasil mewarnai saya dari buku Fantasia. Ilustrasi-ilustrasi lainnya yang sudah diwarnai bisa kamu intip di Instagram dengan hashtag #fantasiacoloringbook dan #nickfilbert.

Nah, gimana, apakah review singkat dan gambar-gambar yang saya pamerkan sudah cukup membuatmu ingin mewarnai buku Fantasia juga? Mari berkreasi dengan warna dan jangan lupa pamerkan hasil karyamu!😉

Tentang Ilustrator

Nicholas Filbert Chandrawienata memulai karier di dunia ilustrasi pada tahun 2013 dan kini telah mengerjakan proyek bergengsi di dalam dan luar negeri. Cover novel The Walled City karya Ryan Graudin yang versi terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama juga merupakan salah satu karya Nick. Pada tahun 2015 yang lalu Nick juga pernah menerbitkan mini art book bertajuk Serene yang hanya dicetak terbatas. Mari kita tunggu karya-karya Nick selanjutnya.😉


Detail buku:

Anti-Stress: Coloring Book for Adults – FANTASIA, oleh Nicholas F. Chandrawienata
64 halaman (26×25 cm), diterbitkan Desember 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 

The Classics Club Project – 20% to go!

classicsclub

“A classic is a book that has never finished saying what it has to say.”
― Italo Calvino

On March 24, 2012 I started joining the most ambitious reading project ever—The Classics Club Project. At the beginning, I challenged myself to read 100 classics in 5 years, which meant I needed to read 20 books every year. Well, on the first two years I only managed to read 18 and 16 books, respectively, and the number declined significantly in the following two years to only 5 and 6 books.

Being aware of my own limitations, I made a huge cut in my Classics Club list—now it only contains 60 books. As of today, I have 12 books left to read (that’s the last 20% of the list) before the end date of this project: March 24, 2017.

Here are the books I plan to read to finish off the 5-year-long Classics Club Project, in no particular order:

  1. The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde
  2. War and Peace – Leo Tolstoy
  3. The Screwtape Letters – C.S. Lewis
  4. The Diary of A Young Girl – Anne Frank
  5. Anne of Green Gables – L.M. Montgomery
  6. Villette – Charlotte Bronte
  7. The Master and Margarita – Mikhail Bulgakov
  8. Good Wives – Louisa May Alcott
  9. Rebecca – Daphne du Maurier
  10. The Moonstone – Wilkie Collins
  11. One Flew Over the Cuckoo’s Nest – Ken Kesey
  12. Ben-Hur: A Tale of the Christ – Lew Wallace

Alternatives, if I’m unable to finish any of the titles above:

  1. Book 3-7 from The Chronicles of Narnia series by C.S. Lewis
  2. A play from Oscar Wilde (looks like it’s going to be An Ideal Husband)
  3. Mary Poppins – P.L. Travers

Of course the books on the above list are subject to change whenever I feel like it😀.

I will also read some Indonesian classics that I don’t include in the Classics Club list:

  1. Habis Gelap Terbitlah Terang (Dutch: Door Duisternis tot Licht) – Raden Adjeng Kartini – currently reading
  2. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer
  3. Harimau! Harimau! – Mochtar Lubis

To see the books I have read and reviewed for The Classics Club Project, go to this post.

Now, I have a lot of books to read work to do! Wish me luck!

Alice’s Adventures in Wonderland – Lewis Carroll

alice puffin chalkIt’s strange that even though I have been familiar with the character Alice since childhood (thanks to Disney), I have never actually read the book. While both of the Disney adaptations—the old-school animation and the latest one—are weird, I think the book was even weirder!

Curiouser and curiouser! Alice would say.

Alice, a curious child of seven, thought it was very strange indeed that on a hot day, she should see a White Rabbit that talks and wears a waistcoat and has a watch which he took out from his waistcoat-pocket. Piqued by her own great curiosity, she followed the frantic White Rabbit down a seemingly endless hole. Through the Rabbit-Hole, she was transported to Wonderland, a world in which everything is absurd, fantastical and even ridiculous, and nothing makes sense.

Why is this book so well-loved? I don’t have the answer to that question, but I know that I like this book because:

1. You can never guess what happens next. And Alice as the main character will keep you fascinated. When I decided to read this book I was in need of a sort of escapism, and little did I know that I was in for a treat. This book is a wild journey of imagination.

2. True, this book falls into the “literary nonsense” category, but you can’t help but admire Lewis Carroll’s wordplay. And some parts are just so funny.

Let’s take a look at a passage from The Mock Turtle’s Story:

“I couldn’t afford to learn it,” said the Mock Turtle with a sigh. “I only took the regular course.

“What was that?” inquired Alice.

“Reeling and Writhing, of course, to begin with,” the Mock Turtle replied; “and then the different branches of Arithmetic – Ambition, Distraction, Uglification, and Derision.”

“…Mystery, ancient and modern, with Seography: then Drawling—the Drawling-master was an old conger-eel, that used to come once a week: he taught us Drawling, Stretching, and Fainting in Coils.”

“And how many hours a day did you do lessons?” said Alice, in a hurry to change the subject.

“Ten hours the first day,” said the Mock Turtle, “nine the next, and so on.”

“What a curious plan!” exclaimed Alice.

“That’s the reason they’re called lessons,” the Gryphon remarked: “because they lessen from day to day.”

3. The cover of the edition of Alice’s Adventures in Wonderland I own (published by Puffin Books under the Puffin Chalk series). I mean, the cover alone would have been enough to rate this book 3 stars at least.

To wrap up this nonsense review, I only want to point out that even though I read this book for the first time as an adult, I read it with a mind of a child. I didn’t search for symbols and hidden meanings while reading, because the child in me didn’t need to understand to enjoy the journey.

“It’s no use going back to yesterday, because I was a different person then.”


Book details:

Alice’s Adventures in Wonderland, by Lewis Carroll
160 pages, published 2014 by Puffin Books (first published 1865)
My rating: ♥ ♥ ♥

Belanja Buku Cepat dan Gampang di Belbuk.com

Walaupun saya hidup di kota besar yang punya banyak toko buku, saya lebih sering berbelanja buku secara online, bahkan hampir 90% buku-buku saya dibeli secara online baik di toko buku online dalam dan luar negeri, yang punya website resmi ataupun yang jualan dengan menggunakan akun Instagram dan Facebook.

Ada banyak sekali toko buku yang tersebar di dunia maya, dan salah satunya adalah belbuk.com, yang baru-baru ini memberi saya kesempatan untuk memberikan review toko buku online. Sebagai imbalannya, saya dapat voucher yang saya gunakan untuk membeli buku-buku seperti di bawah ini:

P_20160512_171212.jpg

Jpeg

Di saat kantong lagi bolong karena kebanyakan beli art supplies, voucher buku ini sungguh-sungguh membahagiakan! Terima kasih belbuk.com. #malahcurhat

Oke, berikut review toko buku online belbuk.com seperti yang sudah saya janjikan.

belbuk logo

Sebenarnya saya sudah menerima e-mail dari belbuk.com tanggal 29 April 2016, tapi karena kesibukan saya hanya membacanya sekilas lalu lupa mereply😄. Akhirnya e-mail tersebut saya reply pada tanggal 4 Mei, dan syukur penawarannya masih berlaku, hehehe. Saya akhirnya meluncur ke website belbuk.com dan melakukan pembelian hari itu juga.

Tampilan Website

belbuk 1

Simple dan rapi, bahkan boleh dibilang standard. Plusnya, karena tampilan yang standard itulah website belbuk.com loadingnya cepat, hal ini sesuai dengan mottonya Cukup Diklik Buku Tiba di Rumah. Saya mencoba akses dengan koneksi internet yang kurang stabil pun lancar tanpa kendala.

Di sidebar sebelah kiri ada kategori buku, dan di atasnya ada pilihan Buku, CD/DVD, ATK, dan Komputer. Sayangnya selain Buku, jenis produk yang ditawarkan di CD/DVD, ATK, dan Komputer tidak banyak. Selain itu di laman awal kita dapat melihat Buku Terbaru dan Buku Laris.

Proses Pencarian Buku

Cepat dan mudah, tinggal ketik judul buku yang diinginkan di kolom search yang terpampang lebar di bagian atas. Hasil pencarian akan terpampang di layar, yaitu judul buku, nama pengarang dan penerbit, kategori, harga, dan ada notifikasi dalam font merah jika persediaan habis. Menurut saya ini fitur yang sangat membantu karena mencegah calon pembeli di-PHP-in ketika sudah klik link bukunya, eh ternyata persediaan habis.

Proses Pemesanan

belbuk 2Sekali lagi, cepat dan mudah. Kalau masih bingung, tinggal klik Cara Pembelian. Setelah memasukkan semua buku yang ingin dibeli di Troli, total pembelian (sebelum ongkos kirim) dan total berat akan muncul. Pilihan metode pengiriman hanya ada 2 yaitu JNE Reguler dan NEX Logistics S3+ (Reguler Plus), sementara pilihan untuk pembayaran cukup banyak, antara lain dengan transfer bank BCA, Mandiri, BNI, BRI dan yang terakhir dengan Paypal. Saya senang ada opsi pembayaran dengan Paypal karena setahu saya belum banyak toko online di Indonesia yang menyediakan opsi pembayaran ini. Sebelum menyelesaikan pemesanan pembeli bisa meninjau kembali alamat pengiriman, rincian pesanan, metode pengiriman dan metode pembayaran.

Proses Pengiriman

Saya melakukan pemesanan pada tanggal 4 Mei, nah karena besoknya tanggal 5 sampai 8 Mei adalah long weekend dan belbuk.com hanya memproses pemesanan pada hari kerja Senin-Jumat, maka pesanan saya baru diproses pada hari Seninnya, tanggal 9 Mei. Rinciannya dapat dilihat di Riwayat Pesanan, dan status pengiriman dapat dilihat di Riwayat Status., yang cukup detail mulai dari Menunggu Pembayaran, Pembayaran Diterima hingga Dikirim. Paket dikirim keesokan harinya tanggal 10 Mei dan saya terima tanggal 12 Mei sore (menggunakan NEX Logistics).

Kebetulan dari 4 buku yang saya pesan, ada satu yang ternyata persediaannya habis, padahal pada saat saya masukkan ke troli tidak ada keterangan Persediaan Habis. Cukup sedih sih, karena buku itu termasuk wishlist yang paling saya pengenin😦 (bukunya People of the Book – Geraldine Brooks, btw). Nilai pesanan yang persediaannya habis dikembalikan ke Saldo Akun (di dalam menu Akun Saya), dan bisa dipergunakan untuk pembelian selanjutnya atau ditarik (menu Ajukan Penarikan Dana).

Kesimpulan
  1. Tampilan website sederhana tapi bagi saya tidak masalah, malah menguntungkan karena aksesnya cepat.
  2. Kategori buku beragam dan pencarian buku dapat dilakukan dengan gampang
  3. Proses pemesanan cepat, ringkas dan mudah
  4. Pengiriman cepat sesuai yang dijanjikan tiba dalam 2-3 hari.
Usulan
  1. Kalau boleh packingnya pakai pelindung tambahan misalkan cardboard atau bubble wrap, tidak hanya kertas coklat dan plastik. Untungnya paket saya sampai tanpa penyok sedikitpun.
  2. Stok kalau bisa diupdate secara berkala, sehingga ketika pembeli memasukkan barang ke dalam troli, pembeli bisa yakin kalau semua produk yang dibelinya masih tersedia.
  3. Koleksi dilengkapi dengan buku-buku terbitan terbaru dan diskonnya ditambah dong, hehehe. Karena saya lihat hanya penerbit-penerbit tertentu saja yang ada diskonnya.

Overall, pelayanan belbuk.com memuaskan dan layak jadi pilihan bagi kamu yang suka berbelanja buku (lokal) secara online. Sekali lagi terima kasih kepada belbuk.com yang sudah memberi saya kesempatan untuk memberikan review toko buku online, dan semoga review ini bermanfaat.

Ciao!

Wishful Wednesday (30)

wishful-wednesday1

Wishful Wednesday ini… semacam alat untuk menebus dosa kalo lama gak posting, hehehe. Beberapa hari lalu saya share meme ini di Facebook:

hardbacks meme

Betapa bahagianya kalau punya koleksi hardbacks (baca: edisi cakep) seperti yang sudah saya sebutkan di post Facebook di atas. Tapi realitanya selain harga buku-bukunya super mahal, saat ini space kosong di rak buku saya juga sangat sangat terbatas.😀

Tapi, one day, saya pengen banget punya ke-26 buku ini:

penguin drop caps full set

Source: http://www.letstakeashelfie.ca/2015/04/penguin-drop-cap-adventure.html

Buat yang belum tahu, seri ini namanya Penguin Drop Caps. Cover masing-masing buku adalah abjad dari surname pengarangnya dan didesain oleh Jessica Hische. Ke-26 buku yang termasuk dalam seri Penguin Drop Caps bisa dilihat di link ini.

Dari ke-26 buku ini, salah satu yang paling saya pengenin adalah buku dengan abjad terakhir yaitu The Shadow of the Wind karya Carlos Ruiz Zafon. Sebenarnya saya sudah pernah membaca buku ini (pinjem Mbak Astrid sang host WW, in fact) dan reviewnya bisa dibaca di sini. Tapi pengen punya bukunya untuk koleksi, hihihi. Coba liat desain covernya deh maka kamu akan langsung tahu mengapa saya pengen buku ini.

Cakep kan? Nah, kebetulan saya nitip beberapa buku Zafon ke sesama BBI-er yang pergi ke bursa buku Big Bad Wolf, dan The Shadow of the Wind nggak ada, tapi dua sekuelnya yaitu The Angel’s Game dan The Prisoner of Heaven ada. Apakah ini artinya saya akan berjodoh sama The Shadow of the Wind edisi Penguin Drop Caps? I certainly hope so!😀

Pengumuman Pemenang World Book Day+Birthday Giveaway

surgabukuku GA mar16

Halo! Sebelumnya saya minta maaf kalau pengumuman pemenang ini terlambat beberapa hari, karena weekend lalu saya sempat sakit lalu disambung kepadatan pekerjaan menjelang long weekend.

Terima kasih untuk semua partisipan World Book Day+Birthday Giveaway, maaf saya tidak bisa reply komentarnya satu-satu, tapi saya menghargai banget setiap komentar yang masuk, dan setiap orang yang sudah follow dan share!:) Total entri yang masuk sejumlah 57 dan dari jumlah tersebut hanya 48 entri yang valid untuk masuk dalam pool undian penentuan pemenang. Beberapa entri yang gugur antara lain karena:

  1. Tidak memberikan link share / link tidak aktif
  2. Tidak memberi komentar di review buku di blog Surgabukuku
  3. Submit Google Form lebih dari 2x. Di post giveaway saya sudah mensyaratkan untuk submit Google Form sekali saja, namun ada beberapa yang submit 2x dengan alasan takut nggak masuk, maka saya maklumi. Tapi yang submit lebih dari 2x saya anggap gugur.

Nah, langsung saja berikut ini adalah 4 orang yang beruntung terpilih sebagai pemenang World Book Day+Birthday Giveaway (dari hasil undian dengan Random.org):

Hadiah 1 (To Kill a Mockingbird): Athaya Irf

Hadiah 2 (Kisah Dua Kota): Nina Ridyananda

Hadiah 3 (Dongeng Ketiga Belas): Dwi Setianto

Hadiah 4 (3 buku Agatha Christie): Didi Syaputra

Selamat bagi semua pemenang! Saya akan mengirim e-mail ke masing-masing pemenang dan wajib dibalas dengan mencantumkan data pengiriman paling lambat hari Senin, 28 Maret 2016 pukul 16:00 WIB, kalau tidak saya akan memilih pemenang baru. Oh ya, keputusan penentuan pemenang tidak bisa diganggu gugat.:)

Demikian post kali ini, selamat liburan bagi semuanya dan selamat Hari Jumat Agung bagi teman-teman yang merayakan!

 

The Princess Bride – William Goldman

OLYMPUS DIGITAL CAMERAIt comes to this: I was in need of a light read after spending one and a half month preparing for IELTS. I don’t know exactly why I chose this book—maybe because I suddenly remember my history with The Princess Bride. I first bought The Princess Bride on impulse. The truth is I don’t like fantasy books all that much, and I also didn’t really like the cover, so I sold it to Mbak Dewi (it was a copy with this cover, anyway). Some years later, while casually browsing a pile of used books in a bookshop, I found another copy of The Princess Bride. Having watched the film and seeing that the book has a vintage-looking cover, I decided to buy it. Ha! This time I didn’t regret buying it because in addition to the eyecatching cover, it also has a map. It would make a splendid addition to my collection!

Now, moving on to the story. I will list the characters first.

Buttercup, a Florinese village girl of unmatched beauty.

Westley, an orphaned farm boy who worked (or slaved) for Buttercup’s father.

Prince Humperdinck, a scheming and power-hungry prince who loved hunting above all else.

Count Rugen, Humperdinck’s sidekick and confidant who was obsessed with pain.

Vizzini the brainy Sicilian.

Inigo Montoya the sword-wielding Spaniard.

Fezzik the Turkish giant.

All the Farm Boy ever said to Buttercup was, “As you wish.” Of course what he meant was “I love you” but it took Buttercup some time before she realises this. Not until a visit from Count and Countess Rugen when she saw the Countess seemingly took a fancy of Westley. But just after them realising their true feelings for one another, Westley sailed off to America to seek his fortune, in order to become a man worthy of Buttercup. Buttercup waited and waited, but news came one day that Westley’s ship had been attacked by the Dread Pirate Roberts and he never takes prisoners, which means Westley was dead. Heartbroken, Buttercup accepted marriage proposal from Prince Humperdinck (confused? Hang on a bit) with “I can never love him” in mind. Well, it means death if she said no. So began the preparations of the royal wedding, including months of making the village girl into a princess. One day while riding her horse, a weird trio consisted of Vizzini, Inigo, and Fezzik kidnapped her. But the trio’s plan (or more accurately, Vizzini’s plan, since he was the head of the trio) was threatened by the man in black, who followed them as they were sailing to the neighbouring country of Guilder, up the Cliffs of Insanity to the ravines that led to the Fire Swamp. (I’m going to leave it at this moment, there are so much adventures thereafter, but I don’t want to ruin your fun by spoiling them all.)😉

Thoughts:

This book is the abriged version of S. Morgenstern’s The Princess Bride, the “good parts” version by William Goldman. (SEE UPDATE AT THE END OF THE POST) I don’t think that this book belongs to the fantasy genre, let alone a fairy tale, even though my copy says “a hot fairy tale”. I think it’s an adventure book with bits of fantastical elements. My copy of The Princess Bride starts with a 29-page introduction, rather too long for my taste. I was tempted to skip it altogether but later realized that it was somewhat necessary to read, that is if you want to know the background on the abridgement of S. Morgenstern’s work by William Goldman. Goldman’s “commentaries” are also scattered all over the book, but mostly they are short so it wouldn’t be a burden to read these additional paragraphs typed in fancy italic. As someone who’s seen the film first then read the book, I must say that I think both are equally entertaining. The film adapted the book very well, from Westley’s wittiness (performed gorgeously by Cary Elwes) to the memorable lines of Inigo (“Hello. My name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die.”)

inigoand of Vizzini (“Inconceivable!”).

inconceivableInigo and Fezzik making rhymes is also my favourite part of both the book and the film. Miracle Max and his wife Valerie were hilarious. The one character I like the least is the princess bride herself, in both the book and the film. However, the book can give you much more interesting scenes that didn’t make it to the film. For example Fezzik and Inigo’s adventure when they went through all five levels of Prince Humperdinck’s Zoo of Death to retrieve Westley was thoroughly explained in the book, while in the film it was reduced to short scenes in the Pit of Despair. The writing feels modern, so it easily falls into the “light reading” category. Of course you need to ignore some stuff if you want to enjoy the book, for example Buttercup accepting Humperdinck, the torture scenes, and how a lump of clay coated in chocolate could bring someone back from the dead. All in all, this is a delightful read. You should read it then watch the film. Or vice versa, I don’t really care. Just read it and watch it, in whatever order you’d like.:)

P.S. : I know this review is crap but it doesn’t make the book any less entertaining.

Here is the movie trailer:


Book details:

The Princess Bride, by William Goldman
283 pages, published 1987 by Turtleback Books/Del Rey Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


UPDATE (15 Mar 2016):

I have just found out that S. Morgenstern is not a real author, thanks to Fingerprinttale and Chiipurai who kindly informed me of this. Explanation on Wikipedia: Simon Morgenstern is both a pseudonym and a narrative device invented by Goldman to add another layer to his novel The Princess Bride.[26] He presents his novel as an abridged version of a work by the fictional Morgenstern, an author from the equally fictional country of Florin. The name may be a reference to Johann Carl Simon Morgenstern, who coined the term Bildungsroman. (Read the rest on Wikipedia).