Suite Française – Irène Némirovsky

suite francaiseDisebut-sebut sebagai proyek paling ambisius dari penulis Prancis kelahiran Ukraina Irène Némirovsky, Suite Française berusaha menggambarkan penderitaan masyarakat Prancis—semendetail mungkin –pada sebuah kurun waktu dari Perang Dunia II. Lebih lanjut, Suite Française membawa sederetan karakter yang mewakili masyarakat Prancis dari berbagai kelas sosial.

Badai di Bulan Juni

Bagian pertama novel ini diberi judul “Badai di Bulan Juni”, mengambil waktu mulai dari bulan Juni 1940 saat tentara Jerman memulai pendudukan atas Prancis . Berikut ini adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya:

Yang pertama ada keluarga Péricand, keluarga kaya dan terhormat. Philippe, anak lelaki tertua pasangan Péricand adalah seorang pendeta, adiknya Hubert remaja delapan belas tahun yang masih kekanak-kanakan, dan tiga adik mereka, Bernard, Jacqueline, dan Emmanuel masih kecil-kecil. Kakek Péricand , sang ahli waris keluarga Maltête dari Lyon, sudah cacat dan duduk di kursi roda. Dengan kekayaan yang mereka miliki, keluarga Péricand selalu menyisihkan sebagian untuk amal sesuai dengan kewajiban penganut Kristen yang baik, demikian kata Madame Péricand.

Kemudian ada penulis Gabriel Corte, kaya dan terkenal, namun sangat sombong. Corte punya banyak wanita simpanan, namun hanya satu yang “resmi”, yaitu Florence. Mewakili rakyat kelas menengah, ada pasangan Michaud yang sederhana dan hidup dengan harmonis. Maurice sang suami bekerja sebagai karyawan bagian keuangan dan Jeanne sang istri sekretaris di bank yang dipimpin Monsieur Corbin. Pasangan Michaud memiliki seorang putra, Jean-Marie, yang ikut berperang membela Prancis. Dan juga ada Charles Langelet, seorang pria kaya kolektor barang-barang indah, yang dikenal sangat kikir.

Baik keluarga Péricand, Gabriel Corte dan Florence, pasangan Michaud, Monsieur Corbin dan wanita simpanannya, dan juga Charles Langelet mempunyai misi yang sama: pergi sejauh mungkin dari Paris karena kota itu akan diduduki tentara Jerman. Dari sini pembaca diajak menelusuri apa saja yang dialami para tokoh saat mereka pergi meninggalkan Paris. Yang kaya berusaha membawa sebanyak mungkin harta benda dan makanan yang mereka miliki, dan membawa mobil, tentu saja, walaupun persediaan bensin menipis. Sementara itu, pasangan Michaud yang tidak mendapat tumpangan di mobil Monsieur Corbin terpaksa pergi berjalan kaki, menyeret koper-koper berat dalam cuaca bulan Juni yang panas.

Mereka berusaha pergi dari Paris ke tempat tujuan masing-masing, di tengah ancaman bom dan tembakan dari pesawat-pesawat Jerman, belum lagi ancaman perampokan dari sesama warga sipil. Segalanya kacau balau. Dihadapkan dengan situasi yang sulit, barulah terungkap sifat asli masing-masing karakter. Madame Péricand yang selalu mengajari anak-anaknya untuk menolong orang lain, malah marah-marah ketika melihat dua anaknya membagi-bagikan permen dan cokelat dengan orang-orang di sekitar mereka. Maurice dan Jeanne Michaud menanggung beban mereka dengan cukup sabar, namun Jeanne dihantui ketakutan bahwa putra tercintanya tak selamat. Gabriel Corte dengan angkuh menolak kamar hotel yang baginya kurang nyaman, padahal ada sepuluh keluarga pengungsi lainnya yang memohon-mohon supaya diberikan kamar itu. Charles Langelet yang kehabisan bensin di tengah perjalanan tega mencuri mobil sepasang orang muda. Sementara itu Jean-Marie yang terluka, ditemukan dan dirawat oleh keluarga petani yang memiliki dua orang putri, yang pertama putri kandung dan yang satunya lagi putri angkat: Cécile dan Madeleine.

Dolce

Bagian kedua yang berjudul “Dolce” menceritakan bulan-bulan pertama pendudukan Jerman di Prancis. Ada beberapa karakter baru, antara lain:

Keluarga Angellier dari kaum borjuis, yang terdiri dari Madame Angellier dan menantu perempuannya, Lucile. Gaston, anak lelaki Madame Angellier dan suami Lucile, ikut berperang dan sedang ditawan oleh Jerman. Madame Angellier seorang wanita yang otoriter dan dominan, sedangkan Lucile yang cantik penyendiri dan kutu buku. Kedua wanita yang bertolak belakang ini tinggal di sebuah rumah indah di Bussy, desa yang pada saat itu diduduki tentara Jerman. Seperti di banyak rumah lainnya, mereka harus menerima seorang perwira Jerman untuk tinggal dalam rumah mereka.

Perwira Jerman yang tinggal di rumah Angellier bernama Bruno von Falk, pemuda tampan dengan mata besar dan rambut pirang. Walau pada mulanya Lucile bersikap kaku terhadap “musuh dalam selimut” ini, namun keramahan Bruno membuatnya luluh dan akhirnya mereka pun berteman. Hubungan pertemanan ini lambat laun berubah menjadi sesuatu yang lain… apalagi karena Lucile tak benar-benar mencintai suaminya yang serong. Hal ini tak luput dari pengamatan Madame Angellier yang merasa Lucile telah mengkhianati putranya.

Vicomte dan Vicomtesse de Montmort adalah sepasang bangsawan yang hipokrit. Sang Vicomtesse berseru di depan murid-murid sekolah supaya mereka “bermurah hati” dan “tidak memikirkan diri sendiri”, sementara ia sendiri memakai sepatu seharga delapan ratus lima puluh franc. Ada kebencian turun temurun antara keluarga Sabarie dan keluarga Montmort.

Keluarga Sabarie—keluarga petani yang merawat Jean-Marie Michaud—kembali muncul dalam bagian kedua novel ini. Madeleine sudah menikah dengan Benoît, putra keluarga Sabarie, meskipun ia masih mencintai Jean-Marie. Karena pertikaian dengan perwira Jerman yang tinggal di rumah mereka (Benoît cemburu buta melihat perwira itu menggoda istrinya), Benoît melarikan diri dan akhirnya bersembunyi di rumah keluarga Angellier. Madame Angellier yang notabene kelasnya jauh diatas Benoît, menerimanya demi membantu sesama orang Prancis.

Thoughts:

Jika pada Badai di Bulan Juni cerita mengalir lebih cepat dan dengan tone yang gelap, dalam Dolce cerita mengalir dengan lebih lambat dan tidak segelap bagian pertama, karena dalam Dolce pembaca melihat para tentara Jerman membangun hubungan baik dengan warga desa (entah tulus atau tidak), sampai-sampai warga desa menyesali saat kepergian mereka, dengan alasan jika mereka diduduki tentara lain lagi, belum tentu sikap tentara baru itu akan sebaik tentara Jerman yang pernah menduduki desa mereka.

Dalam Badai di Bulan Juni diperlihatkan bagaimana sebagian besar karakter bersikap buruk dan moralnya merosot, sementara kebaikan ditonjolkan oleh pasangan Michaud yang meski menderita, namun mereka tetap tulus, sabar dan nrimo. Hubungan yang harmonis antara pasangan suami istri Michaud cukup dapat menghangatkan hati pembaca, apalagi ketika mereka dihajar dengan hadiah yang manis pada akhir bagian pertama.

Hal paling menarik dalam Dolce mungkin adalah hubungan yang berkembang antara Lucile dan Bruno von Falk. Lucile yang sudah muak dengan suasana perang menemukan seorang teman dalam diri Bruno, dan memandangnya sepenuhnya sebagai seorang manusia yang bisa diajak berbicara dan berbagi; seragam hijau tentara Jerman yang dipakai Bruno diabaikan oleh mata Lucile.

“Tentu dalam perang,” katanya kepada dirinya sendiri, “ada tahanan perang, janda, penderitaan, kelaparan, pendudukan. Lalu, kenapa? Aku tak pernah melakukan hal yang salah. Dia seorang teman yang patut dihargai, buku, musik, percakapan-percakapan panjang kami, berjalan-jalan bersama di Hutan Maie… Yang menjadikan hal ini sebagai hal yang tak patut dilakukan adalah perang ini, penderitaan universal ini. Tetapi ia tak lebih bertanggung jawab daripada aku! Ini bukan salah kami. Kalau saja mereka membiarkan kami… Kalau saja mereka membiarkan saja kami!”

Pada akhirnya Lucile memutuskan bahwa meski perang yang kejam mengubah banyak hal, namun ia ingin kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, ia punya hak menentukan nasibnya sendiri. Ia memutuskan bahwa ia tak peduli bahwa negaranya dan negara si perwira saling berperang, karena kenyataannya Lucile dan Bruno bersahabat. Semua itu tidak salah… yang menjadikan salah adalah adanya perang yang memborbardir kedamaian antar manusia.

Mungkin, daya tarik paling utama dari Suite Française adalah fakta bahwa novel ini tidak selesai. Sang penulis, dalam catatan-catatan pribadi yang dilampirkan dalam apendiks, mengungkapkan rencananya untuk menulis novel dalam lima volume dengan total sekitar 1.600 halaman. Melalui apendiks kita tahu bahwa Irène Némirovsky tidak main-main dalam menulis, ia punya pemahaman memadai tentang keadaan politik dan sosial Prancis sebagai modal untuk menulis buku mahakaryanya. Walaupun tahu ajalnya sudah mendekat, ia tidak berhenti menulis. Dan penulisannya memang cantik meskipun terjemahannya (atau editannya, atau keduanya) kurang mampu mempertahankan kecantikan tulisan aslinya. Pada banyak bagian saya menemukan terjemahan yang aneh dan editan yang berantakan.

Kisah tentang sang penulis sendiri juga tak kalah menariknya (baca Prakata pada apendiks): beliau adalah seorang Yahudi yang ditangkap Jerman bulan Juli 1942 dan kelak tewas di kamar gas (dengan demikian meninggalkan Suite Française tidak terselesaikan). Diceritakan juga bagaimana manuskrip Suite Française selamat berkat Denise, putri Némirovsky dan baru dipublikasikan enam puluh tahun kemudian. Seandainya novel ini selesai, bukan tidak mungkin Suite Française bisa menyaingi kebesaran War and Peace karya Leo Tolstoy. Namun takdir sudah berkata lain, dan kita harus puas dengan dua bagian novel yang memberi kita sekilas pemahaman tentang perasaan dan penderitaan rakyat sipil Prancis saat Perang Dunia II berkecamuk, khususnya pada awal pendudukan Jerman di Prancis.


suite_francaise_12sht_f-page-001

Suite Française sudah difilmkan dengan bintang Michelle Williams sebagai Lucile Angellier, Matthias Schoenaerts sebagai Bruno von Falk dan Kristin Scott Thomas sebagai Madame Angellier. Bagaimana film ini mengembangkan cerita dari novelnya yang tidak selesai? Kita lihat saja nanti…

2nd review for Project Baca Buku Cetak | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Read Big Challenge 2015

Detail buku:

Suite Française, oleh Irène Némirovsky
642 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Qanita (Mizan Group) (pertama kali diterbitkan 2004)
My rating: ♥ ♥ ♥

Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) :P

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. :)

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! :)

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.

***

Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

beekeeperMary Russell baru berusia lima belas tahun ketika ia bertemu dengan Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan tanpa sengaja itu Holmes menyadari bahwa ia menemukan “permata yang terpendam”, yakni kecerdasan yang luar biasa yang tak disangkanya bisa ia temukan dalam diri seorang gadis muda. Saat itu Holmes yang sudah pensiun dan sudah memasuki usia paruh baya itu menyibukkan dirinya dengan beternak lebah. Tidak butuh waktu lama bagi Holmes untuk merekrut Mary sebagai muridnya. Mereka mulai bekerjasama dalam menangani berbagai kasus. Kasus yang pertama adalah suami seorang wanita yang tiba-tiba sakit secara mencurigakan, kemudian kasus penculikan seorang putri senator Amerika, dan yang terakhir teror bom yang mengancam nyawa Holmes, Russell, dan juga kawan-kawan dekat Holmes seperti Dr. Watson, Mrs. Hudson, dan juga Mycroft Holmes sehingga mereka harus berpencar ke segala arah demi mengatur strategi menghadapi musuh yang pintar dan licin ini.

[Spoiler Alert!]

Sebagai sebuah novel detektif, buku ini cukup menghibur. Dalam beberapa peristiwa pembaca dapat merasakan simpati yang dalam terhadap karakter Mary Russell yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya melalui peristiwa yang sangat mengerikan dan memilukan, dan juga terhadap Sherlock Holmes, yang betapapun brilian otaknya, tetap seorang manusia yang tidak luput dari masa penuaan.

Bagi saya, ide mempertemukan sesosok tokoh detektif selevel Sherlock Holmes yang sudah mencapai usia senior (sekitar 60 tahun) dengan seorang gadis muda pintar yang kemudian menjadi murid dan selanjutnya partnernya—adalah sungguh-sungguh absurd. Namun, event Laurie R. King Read-A-Long yang dihost oleh Fanda bulan lalu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, dan mungkin juga karena faktor covernya yang merah dan mewah.

Dari beberapa novel yang mengambil era Regency (misalnya novel-novel Austen) dan era Victoria, memang pernikahan yang terjadi antara seorang gadis muda dan seorang lelaki yang lebih tua berpuluh-puluh tahun darinya sering terjadi dan mungkin dianggap lazim. Tapi bagaimana dalam setting waktu yang diambil buku ini, yaitu pada tahun 1920-an setelah Perang Dunia Pertama? Bagaimanapun, saya tetap merasa aneh bahwa karakter Mary Russell yang belum genap dua puluh tahun dan Sherlock Holmes yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun bisa memiliki hubungan yang romantis (atau setidaknya dalam buku ini, hampir romantis). Saya akan jauh lebih suka jika Mary Russell murni menjadi murid dan sidekick Sherlock Holmes tanpa membuat mereka menjadi pasangan romantis. Coba bayangkan Mary Russell yang beranjak dewasa memiliki pasangan dan Sherlock Holmes akan berperan menjadi “paman tua yang sok tahu dan selalu ikut campur”. Tak kalah menarik, bukan? Tapi, oh well, saya bukan sang penulis, dan seri ini toh telah diterbitkan sampai buku yang ke-12 (lihat semua serinya di sini).

Satu hal lagi yang saya tidak sukai dari buku ini, adalah adegan saat Holmes ingin mengerjakan sesuatu sendirian dan menolak melibatkan Russell, yang ditanggapi oleh Russell dengan: “Holmes, kau tidak bisa berbuat begini kepadaku. Kau tidak berkata apa-apa kepadaku, kau sama sekali tidak meminta saranku, hanya mendorongku ke sana kemari, mengabaikan segala rencana yang mungkin kumiliki, menyimpan rahasia dariku seakan aku adalah Watson, dan kini kau hendak pergi dan meninggalkanku dengan daftar belanjaan. Pertama-tama kalu menyebutku mitra, lalu kau mulai memperlakukanku seperti pelayan. Bahkan murid magang pun patut diperlakukan lebih baik dari pada itu.” – hal. 280

Dalam adegan yang lain pun Mary Russell menganggap Dr. Watson “tidak berguna” walaupun kemudian ia menyadari bahwa Watson sangat baik hati. Saya bukan pembaca setia seri Sherlock Holmes dan saya tidak tahu seperti apa hubungan Holmes-Watson yang sesungguhnya dalam tulisan Conan Doyle, namun bagi saya karakter Mary Russell dengan terang-terangan merendahkan peran Dr. Watson, and I dislike that. (Iya deh, mungkin ini efek dari terlalu banyak nonton seri Sherlock BBC di mana peran John Watson sangat signifikan bagi partnernya, Sherlock Holmes.)

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan tersebut, The Beekeeper’s Apprentice tetap sebuah bacaan yang cukup mengasyikkan. Namun maaf sekali kepada Tante Laurie, dalam banyak hal, buku ini not really my cup of tea. Tiga bintang cukuplah buat buku ini.

Detail buku:

The Beekeeper’s Apprentice: Gadis Sherlock Holmes (Mary Russell #1), oleh Laurie R. King
428 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥

Harry Potter and the Deathly Hallows – J.K. Rowling

HP7Tujuh. Kaum penyihir di dalam buku Harry Potter menganggapnya sebagai angka yang mengandung kekuatan magis. Beberapa orang di dunia nyata menganggapnya sebagai angka keberuntungan. Beberapa fans Harry Potter bahkan mengatakan bahwa ketujuh buku Harry Potter adalah tujuh Horcrux yang dibuat seorang J.K. Rowling untuk menyimpan bagian-bagian jiwanya, sehingga beliau bisa hidup selamanya.

Terlepas dari setuju atau tidak setujunya kamu mengenai beberapa pernyataan di atas, tujuh adalah angka yang dipilih J.K. Rowling untuk menuntaskan petualangan Anak Laki-laki Yang Bertahan Hidup. Tujuh adalah angka yang dipilih JKR untuk mengatakan: Final. Selesai.

Snitch dan pedang Gryffindor untuk Harry, Deluminator untuk Ron, dan buku Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita untuk Hermione. Itulah barang-barang yang diwariskan Dumbledore kepada mereka bertiga. Setelah kematian Dumbledore yang tak terduga di akhir tahun ajaran lalu, Harry memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts, melainkan menjalankan misi yang dibebankan Dumbledore padanya; mencari dan membinasakan Horcrux. Namun sebelum Harry bisa melaksanakan misi itu, terlebih dahulu ia harus tinggal di Privet Drive sampai ulang tahunnya yang ketujuh belas, saat ia akil balig dan sudah tidak memiliki Jejak. Pemindahannya dari Privet Drive ke markas Orde Phoenix sangat berbahaya, dan biarpun sudah direncanakan sematang mungkin, pemindahan itu harus ditebus dengan harga sebelah kuping George dan nyawa Mad-Eye Moody. Mereka tak punya waktu lama untuk berkabung, karena pernikahan Bill Weasley dan Fleur Delacour akan dilaksanakan sebentar lagi. Semua orang juga berbahagia karena Lupin dan Tonks pun telah menikah. Namun semua penyihir yang menentang Voldemort berada dalam bahaya yang paling serius selama bertahun-tahun ini. Kementerian Sihir telah jatuh dalam kekuasaan Pelahap Maut, seperti juga Azkaban. Setelah penyerangan yang terjadi di pernikahan Bill-Fleur, Harry, Ron, dan Hermione berada dalam pelarian, bersembunyi dan membuat rencana-rencana untuk menemukan dan membinasakan Horcrux-Horcrux. Horcrux pertama yang mereka buru adalah liontin Slytherin, yang ternyata berada di tangan Dolores Umbridge. Mereka pun menyusup ke dalam Kementerian Sihir untuk mendapatkan liontin tersebut. Setelah misi pertama berhasil, mereka dilanda kemandekan karena mereka sama sekali tidak tahu dimana Horcrux selanjutnya berada, dan tidak mempunyai senjata untuk menghancurkannya. Selanjutnya melalui buku Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita yang diwariskan Dumbledore kepada Hermione, mereka berhasil mengorek tentang keberadaan Deathly Hallows, tiga benda penakluk kematian yaitu Tongkat Sihir Elder, Batu Kebangkitan, dan Jubah Gaib. Apakah jika ketiga benda tersebut benar-benar disatukan, siapapun yang memilikinya akan memiliki kekuatan tak terhingga? Apakah Dumbledore memaksudkan mereka untuk mencari ketiga Hallow untuk melawan Voldemort alih-alih membinasakan setiap Horcrux yang masih ada? Harry harus membuat keputusan. Dan merekapun melakukan banyak perjalanan luar biasa berbahaya untuk menuntaskan misi mereka, dengan Hogwarts sebagai tujuan final. Pertempuran yang terakhir, penentuan yang manakah yang akan menang, Baik atau Jahat. Yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan… kata ramalan. Dan inilah akhirnya.

Buku ini merupakan buku Harry Potter yang paling brilian, menegangkan, dan penuh kejutan. Sebuah akhir yang luar biasa. Saya mengalami beberapa déjà vu dalam buku ini:

“Itu lambangnya, aku langsung mengenalinya. Grindelvald mengukirnya di dinding di Durmstrang vaktu dia masih murid di sana. Beberapa idiot menyalinnya ke buku dan pakaian mereka, untuk membuat orang lain shock, membuat mereka lebih impresif—“ –> bukankah mengingatkan kepada lambang swastika milik Nazi?

Patung Sihir itu Sakti di Kementerian Sihir, yang disangga ribuan sosok manusia tak berbusana yang dipelintir dan dipres—melambangkan posisi Muggle di mata rezim sihir anti-Muggle. –> bukankah mengingatkan pada kesenjangan sosial yang memisahkan sebagian manusia sebagai warga kelas satu dan lainnya sebagai warga kelas dua? Mereka yang tidak dianggap karena tidak memiliki harta, atau berasal dari ras yang dipandang rendah?

Harta di lemari besi pasangan Lestrange di Gringotts yang berkelontangan menggandakan diri –> suatu warning bahwa yang ada di ujung keserakahan adalah maut? Memang Harry, Hermione, dan Ron masuk ke situ bukan untuk mencuri harta sebanyak-banyaknya, namun toh mereka ikut merasakan bentuk hukuman kepada orang yang serakah—ditenggelamkan oleh harta yang dicurinya.

Itu hanya beberapa simbol yang berhasil saya tangkap dari keseluruhan buku ini, sementara kutipan favorit saya jatuh pada:

“Dan apa pendapatmu, Royal, tentang para pendengar yang menjawab bahwa dalam keadaan berbahaya seperti ini, seharusnya ‘penyihir diutamakan’?”

“Menurutku hanya satu langkah lagi saja dari ‘penyihir diutamakan’ ke ‘darah-murni diutamakan’ dan kemudian ke ‘Pelahap Maut’,” jawab Kingsley. “Kita semua manusia, kan. Setiap nyawa manusia sama nilainya, dan sama-sama layak diselamatkan.”

Kingsley for President! Eh, Minister for Magic. Nilai-nilai humanitas seperti ini yang membuat saya mencintai seri Harry Potter. Bukan karena sihir, tapi karena cinta, kekuatan terbesar yang pernah ada, “yang tak pernah dipahami Voldemort,” kata Dumbledore.

Detail buku:

Harry Potter dan Relikui Kematian (judul asli: Harry Potter and the Deathly Hallows), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
1008 halaman, diterbitkan Januari 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2007)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

10th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 6th review for Read Big Challenge

Review ini diterbitkan tanggal 31 Juli 2013 dalam rangka memperingati hari ulang tahun J.K. Rowling, dan juga karakter ciptaan beliau, Harry Potter.

Happy birthday, Madam Rowling, and happy birthday, Harry!

***

hotter potter logo-1

Fiuh. Ini review terakhir saya untuk event Hotter Potter, dan tidak terasa event ini juga akan segera berakhir. Ada rasa sedih karena harus berpisah dengan Harry dan kawan-kawan, tapi juga lega karena setelah ini saya bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca buku-buku lain yang sudah tertimbun sekian lama, hahaha. Nah, setelah melakukan pertimbangan, saya memutuskan untuk memperpanjang batas waktu posting review untuk event Hotter Potter. Silakan masukkan link postingmu seperti biasa pada Linky yang tersedia. Catatan: review-review buku Harry Potter sebelumnya yang belum dimasukkan dalam linky, boleh dimasukkan dalam Linky di bawah ini dengan catatan mendapat 1 point untuk penentuan pemenang Lucky HotPot. (Review-review yang disubmit tepat waktu ke Linky masing-masing mendapatkan 2 point).

(Click on the blue frog and then “add your link”.) Linky akan dibuka sampai hari Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 23.59 WIB.

Saya juga mengajak semua peserta event Hotter Potter untuk membuat Wrap-Up Post yang berisi: link semua review dan meme yang kamu buat untuk event Hotter Potter, beserta kesan-kesan mengikuti event ini. Pelajaran apa yang kamu dapatkan dari Harry dan kawan-kawan? Jika kamu membaca ulang seri ini, apa yang akhirnya bisa kamu pahami? Apakah ada perasaan yang berbeda dengan pada saat kamu membacanya pertama kali?

Setiap Wrap-Up Post akan mendapatkan 2 poin tambahan untuk pengundian hadiah Lucky HotPot. Masukkan link Wrap-Up Postmu pada Linky di bawah ini. Deadlinenya sama, yaitu hari Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 23.59 WIB.

N.B.: Pemenang Hotter Potter meme bulan Juli akan diumumkan sekitar minggu ketiga bulan Agustus, sementara pemenang Best Reviewer Award dan Lucky Hotpot akan diumumkan sekitar awal September.

Untuk saat ini, saya ingin menutup post ini dengan ucapan: terima kasih atas partisipasi teman-teman semua! Cheers!

Harry Potter and the Half-Blood Prince – J.K. Rowling

HP6Kali ini Lord Voldemort dengan terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya telah kembali. Suasana yang penuh teror mencekam masyarakat sihir. Teror ini bahkan dirasakan oleh para Muggle juga, yang mana di dunia mereka terjadi berbagai malapetaka aneh. Para Muggle juga merasakan hawa keputusasaan yang disebarkan oleh para Dementor, walaupun tidak bisa melihatnya. Sementara itu, ketika Harry Potter kembali ke Hogwarts, terjadi perubahan signifikan dalam jajaran staf sekolah sihir tersebut. Severus Snape akhirnya mendapatkan jabatan yang selama ini diidamkannya, menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, sementara posisinya sebagai guru Ramuan digantikan oleh Horace Slughorn, kawan lama Dumbledore yang gendut seperti beruang laut. Di tahun keenam ini, Harry Potter mendapatkan “pelajaran tambahan” yang luar biasa dari Dumbledore sendiri. Dumbledore mengajak Harry menyelidiki benda-benda terkutuk yang disebut Horcrux yang konon dibuat oleh penyihir jahat untuk menyimpan cabikan jiwanya. Ia curiga bahwa Voldemort telah memastikan bahwa dirinya tak bisa dibunuh dengan membuat Horcrux, bahkan mungkin lebih dari satu. Dan untuk menyelidiki Horcrux ini, Harry dibawa oleh Dumbledore menelusuri masa lalu Voldemort melalui Pensieve.

Ada lagi yang spesial di tahun keenam ini, bahwa selain Harry menjadi Kapten Quidditch, ia juga mendadak menjadi murid nomor satu dalam pelajaran Ramuan, berkat buku tua Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut penuh coretan pemiliknya, yang memanggil dirinya dengan sebutan Pangeran Berdarah-Campuran. Harry sukses besar dalam pelajaran Ramuan berkat bantuan sang Pangeran, walaupun Hermione yang curiga sama sekali tidak mendukung bahwa Harry sangat terbantu oleh buku tua itu. Siapakah Pangeran Berdarah-Campuran itu tetap menjadi misteri besar bagi Harry, Ron, dan Hermione, sampai fakta bahwa Draco Malfoy telah menjadi Pelahap Maut dan dibebani misi sangat penting oleh Voldemort sendiri membentang di depan mata mereka. Penyelidikan dan pencarian akan Horcrux pun ternyata sangat membahayakan nyawa mereka yang cukup nekat untuk melakukannya… Murid-murid Hogwarts berada dalam bahaya… karena di dalam Hogwarts ada pengkhianat. Akhir dari segalanya sudah semakin dekat.

 ***

Seperti yang sudah saya sebutkan di review buku Harry Potter sebelumnya, saya jauh lebih menikmati Half-Blood Prince ketimbang Order of the Phoenix. Di buku ini beban Harry boleh dikatakan sedikit berkurang. Memang ia dibebani tanggung jawab yang lebih besar dengan menjadi Kapten Quidditch, belum lagi pelajaran tambahan dari Dumbledore dan serangan detensi bertubi-tubi dari Snape, tapi setidaknya penderitaan akibat bekas luka kutukannya tidak seberat di buku kelima. JKR juga memperkenalkan karakter baru Horace Slughorn dalam buku ini, tipe orang yang suka membangun koneksi dengan orang-orang penting dan menikmati segala keuntungan yang bisa diperolehnya melalui orang-orang tersebut. Di tahun keenam ini Harry kembali merasakan jatuh cinta, sementara Ron dan Hermione harus mengalami hubungan pasang surut akibat satu cewek bernama Lavender Brown, dan, Ron sendiri. Beberapa adegan cinta-cintaan ini cukup menyegarkan bagi saya setelah dibuat stres dan pusing tujuh keliling oleh buku kelima. Dan memang, ending buku keenam ini cukup menyesakkan dan masih menyisakan misteri besar yang harus dipecahkan oleh Harry, Ron dan Hermione. Namun itu bagian cerita yang lain.

Memorable Quote:

Penting, kata Dumbledore, untuk melawan, dan melawan lagi, dan terus melawan, karena hanya dengan begitulah kejahatan bisa dijauhkan, meskipun tak pernah bisa dibasmi…

How true. Mungkin kita saat ini tidak sedang melawan sihir jahat, tapi bukankah kejahatan ada di mana saja dan kapan saja? Bukan hanya pembunuh dan perampok bersenjata yang saya maksudkan, tapi kemarahan, iri hati, dendam, nafsu duniawi, kebohongan, kesombongan; singkatnya segala kejahatan yang ada di dalam diri kita? Saya percaya itulah kejahatan yang pertama-tama harus kita lawan, yakni kejahatan yang ada dalam diri kita sendiri, sebelum kita melawan segala bentuk kejahatan yang lain.

Detail buku:

Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran (judul asli: Harry Potter and the Half-Blood Prince), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
816 halaman, diterbitkan Januari 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2005)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

9th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 5th review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Harry Potter and the Order of the Phoenix – J.K. Rowling

HP 5Kembalinya Lord Voldemort di akhir tahun ajaran lalu tidak memiliki arti bagi sebagian besar penyihir, karena mereka memilih untuk tidak memercayai berita tersebut. Tidak demikian dengan Harry Potter, kendatipun ia hidup di lingkungan Muggle selama libur musim panas, Harry tak henti-hentinya mengikuti berita Muggle—mencari kepingan berita sekecil apapun—yang mengindikasikan bahwa kembalinya Pangeran Kegelapan telah diberitakan secara luas. Dan bahkan sebelum menginjakkan kaki kembali di Hogwarts, Harry sudah dirundung berbagai masalah. Dua Dementor muncul di Little Whinging dan menyerang Harry dan Dudley. Harry terpaksa harus merapal mantra Patronus untuk menyelamatkan dirinya dan Dudley, dan sebagai konsekuensinya Harry melanggar Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penyihir di Bawah-Umur dan harus menghadiri sidang pelanggaran disiplin di Kementerian Sihir. Meskipun akhirnya dinyatakan bebas dari segala tuduhan, penderitaan Harry belum berakhir. Di sekolah ia menjadi bulan-bulanan karena Daily Prophet telah menulis berbagai artikel bahwa dirinya terganggu dan sinting. Belum lagi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam baru, Profesor Umbridge, yang ternyata sengaja ditempatkan di Hogwarts agar Kementerian Sihir memiliki kekuasaan atas sekolah tersebut. Bagaimana murid-murid Hogwarts berharap untuk bisa lulus ujian OWL mereka, padahal Profesor Umbridge yang luar biasa menyebalkan itu hanya mengajarkan teori pertahanan sihir, tanpa praktek sama sekali. Dari sinilah Hermione mencetuskan ide untuk membentuk kelompok latihan pertahanan terhadap Ilmu Hitam dengan Harry sebagai instrukturnya. Kelompok ini mereka namakan Laskar Dumbledore, dan Harry secara pribadi berharap bahwa kelompok kecil ini juga bisa ikut berjuang melawan Voldemort dan para Pelahap Maut-nya, seperti Orde Phoenix. Sepanjang tahun bekas luka Harry juga terus menerus sakit dan ia bolak-balik melihat pintu hitam sederhana yang selalu tertutup dalam mimpi-mimpinya. Selain itu ia menyadari bahwa ada suatu hubungan aneh antara dirinya dan Voldemort, yang memungkinkan Harry untuk sesekali merasakan dan mengetahui suasana hati Voldemort berikut rencana-rencananya. Siapa yang akan menyangka bahwa semua ini akan menyebabkan Harry kehilangan seseorang yang amat ia sayangi…

***

Diawali dengan serangan Dementor dan diakhiri dengan kematian. Buku kelima Harry Potter, yang notabene merupakan buku paling tebal dari ketujuh seri Harry Potter (edisi terjemahan Indonesianya memiliki 1.200 halaman), bagi saya juga merupakan buku Harry Potter yang paling melelahkan dan bikin depresi. Bagaimana tidak, rasa frustrasi dan mimpi-mimpi Harry, berbagai masalah yang dialami Harry di sekolah (yang berkaitan dengan Umbridge dan Quidditch), sampai pada adegan di Departemen Misteri Kementerian Sihir membuat saya pusing tujuh keliling. Setelah semua yang dialaminya di buku kelima ini, saya justru heran kalau Harry tidak menjadi betul-betul gila. Yah, karena mau jadi apa Harry selanjutnya terserah Madam JKR, saya sebagai pembaca menelan saja isi buku ini tanpa protes, walaupun kurang suka dengan isinya.

Beberapa hal baru dan menarik di dalam buku ini antara lain “cinta monyet” antara Harry dan Cho Chang, teman baru Harry dkk si Luna Lovegood yang aneh, kuda-kuda bersayap bernama Thestral yang hanya bisa dilihat orang yang sudah pernah menyaksikan kematian, keputusan si kembar Fred dan George untuk menentukan sendiri masa depan mereka, pelajaran menutup pikiran atau Occlumency yang tidak sengaja membuat Harry menyaksikan sepenggal masa lalu Snape yang pahit (yang ternyata masih ada kaitannya dengan ayah dan ibu Harry), serta ujian OWL dan pilihan karier bagi murid-murid Hogwarts. Tempat-tempat baru yang diperkenalkan dalam buku ini antara lain rumah Sirius; Grimmauld Place nomor dua belas, Kementerian Sihir, dan Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-luka Sihir.

Kalau boleh jujur, saya sebal sekali dengan Harry di buku ini. Menurut saya mestinya Harry bisa lebih bersabar walaupun ia harus terkungkung di Privet Drive dan tidak menerima kabar dari siapapun. Dia nggak perlu ngamuk pada Ron dan Hermione seperti itu, kan? Dan bahkan ia merasa bahwa dirinya lebih dari Ron dan Hermione, karena ia sudah menghadapi lebih banyak bahaya daripada mereka berdua. Bagi saya, sikap seperti ini agak bikin jijik. Harry juga sebal karena merasa dicuekin oleh Dumbledore. Namun pada akhirnya, Harry belajar bahwa segala sesuatu yang Dumbledore rencanakan baginya tidak pernah membuatnya celaka, walaupun Harry tidak mengetahui seluruh rencana tersebut. Dan teman-temannya selalu setia di sampingnya, tak peduli apapun yang terjadi. Glad that you learned your lesson, Harry.

Setelah membaca buku ini, saya jadi merasa membutuhkan Pensieve… Untungnya, buku keenam lebih ringan dan enjoyable ketimbang buku kelima. So, goodbye, Order of the Phoenix! And hello, Half-Blood Prince!

Memorable Quotes:

“Tahu tidak,” kata Phineas Nigellus, bahkan lebih keras daripada Harry, “persis itulah sebabnya aku benci jadi guru! Celakanya, anak-anak muda yakin mereka benar sepenuhnya tentang segala hal. Kasihan deh kau, beo sombong. Tak pernahkah terpikir olehmu bahwa ada alasan bagus sekali kenapa Kepala Sekolah tidak membeberkan semua detail rencananya kepadamu? Tak pernahkah kau berhenti sejenak, selagi merasa diperlakukan tidak adil, untuk menyadari bahwa mematuhi perintah Dumbledore tak pernah membuatmu celaka? Tidak. Tidak, seperti anak muda lainnya, kau yakin hanya dirimu yang merasa dan berpikir, hanya dirimu yang mengenali bahaya, hanya dirimu satu-satunya yang cukup pintar untuk menyadari apa yang mungkin sedang direncanakan Pangeran Kegelapan…” – hal. 687-688

“Sesungguhnya, kegagalanmu untuk memahami bahwa ada banyak hal yang jauh lebih buruk daripada kematian, sejak dulu merupakan kelemahanmu yang terbesar…” – Dumbledore kepada Voldemort, hal. 1124

***

Detail buku:

Harry Potter dan Orde Phoenix (judul asli: Harry Potter and the Order of the Phoenix), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
1200 halaman, diterbitkan Januari 2004 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2003)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

8th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 4th review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. Catatan: review-review buku Harry Potter sebelumnya yang belum dimasukkan dalam linky, boleh dimasukkan dalam linky ini dengan catatan mendapat point 1/2 untuk penentuan pemenang Lucky HotPot.

(Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Senin tanggal 3 Juni 2013 pukul 23.59 WIB.



Harry Potter and the Goblet of Fire – J.K. Rowling

HP 4Tahun keempat Harry Potter di Hogwarts benar-benar seru. Sebelum tahun ajaran dimulai, Harry berkesempatan menonton Piala Dunia Quidditch bersama keluarga Weasley. Penyihir pria dan wanita dari seluruh dunia hadir untuk menonton Piala Dunia Quidditch, namun acara yang seharusnya berjalan dengan aman dikacaukan oleh serombongan Pelahap Maut yang mempermainkan beberapa Muggle, dan munculnya Tanda Kegelapan yaitu tanda Lord Voldemort di angkasa, menyebabkan kepanikan luar biasa. Lalu sesampainya di Hogwarts, Harry dan kawan-kawan dikejutkan oleh berita bahwa pertandingan Quidditch ditiadakan untuk sepanjang tahun. Namun sebagai gantinya, tahun ini Hogwarts menjadi tuan rumah acara pertandingan sihir yang tidak diadakan selama seratus tahun terakhir, Turnamen Triwizard. Turnamen Triwizard diikuti oleh tiga sekolah sihir terbesar di Eropa, yaitu Hogwarts, Beauxbatons, dan Durmstrang, di mana masing-masing sekolah akan mengajukan calon-calon juara masing-masing, dan juri yang tidak memihak akan memilih yang terbaik dari mereka untuk bertanding memperebutkan Piala Triwizard berikut hadiah uang sebesar seribu Galleon. Calon-calon juara yang boleh memasukkan namanya dalam Piala Api, yaitu juri Turnamen Triwizard yang tidak memihak, harusnya hanya mereka yang berusia tujuh belas tahun keatas saja, namun seseorang—yang berniat jahat—telah menyihir Piala Api tersebut sehingga melupakan bahwa Turnamen Triwizard hanya diikuti oleh tiga sekolah. Hasilnya, Piala Api memilih juara dari Beauxbatons; Fleur Delacour, dari Durmstrang; Viktor Krum, dari Hogwarts; Cedric Diggory, dan Harry Potter sebagai juara keempat. Keluarnya nama Harry sebagai salah satu dari dua juara Hogwarts membuatnya dibenci hampir oleh seluruh sekolah, dan bahkan oleh sahabatnya sendiri, Ron. Dan meskipun Harry telah mati-matian mengatakan bahwa ia tidak memasukkan namanya ke dalam piala, ia telah terikat kontrak sihir yang mengharuskannya bertanding sebagai salah satu juara Hogwarts. Maka Harry pun bertanding bersama-sama dengan Fleur, Krum, dan Cedric menghadapi tiga tugas yang masing-masing menuntut segenap keahlian sihir dan membahayakan jiwa. Dalam tugas pertama, Harry dan kawan-kawan harus menghadapi naga, tugas kedua menyelam ke dalam air untuk membebaskan milik mereka yang berharga, dan tugas ketiga adalah labirin penuh tipu daya sihir di mana Piala Triwizard diletakkan tepat di tengah-tengahnya. Harry sama sekali tidak tahu, bahwa terpilihnya dirinya sebagai juara Hogwarts merupakan bagian dari suatu rencana jahat yang bukan hanya bisa membunuhnya, tapi juga membangkitkan kembali Lord Voldemort…

Buku keempat ini mulai lebih berat dan lebih menyeramkan dibanding tiga buku sebelumnya, karena:

  1. Di buku ini Harry mulai merasakan sakit yang lebih intens pada bekas lukanya. Penderitaan Harry gara-gara bekas luka kalau boleh dibilang adalah titik tolak mulai hilangnya innocence dalam usia muda Harry. Mungkin penulis juga memperhitungkan usia pembacanya yang seiring waktu juga bertambah, sehingga ia mulai menulis lanjutan Harry Potter dengan konflik psikis dan mental yang lebih berat.
  2. Pembaca memperoleh gambaran mengenai masa-masa saat Voldemort berkuasa, yang digambarkan penuh dengan teror dan ketakutan. Karakter yang mati-matian melawan pihak yang jahat, namun tanpa nurani dan belas kasihan adalah salah satu produk masa-masa kegelapan dalam dunia sihir, yang terwujud dalam buku ini melalui karakter Mr. Crouch.
  3. Murid-murid Hogwarts diajarkan mengenai tiga Kutukan Tak Termaafkan; Imperio yang mempengaruhi orang yang disihir agar menuruti kehendak yang merapal mantra; Crucio yang adalah mantra penyiksa; dan Avada Kedavra mantra pembunuh. Ketiga mantra ini merupakan senjata andalan para Pelahap Maut Voldemort, dan di buku-buku selanjutnya akan semakin sering muncul.
  4. Rita Skeeter, yang adalah salah satu tokoh paling menyebalkan dari seluruh seri Harry Potter, adalah seorang wartawan yang menghalalkan segala cara demi berita yang bagus, dan begitu ia mendapatkan topik, maka berita itu dipolesnya dan dibesar-besarkan begitu rupa sehingga jauh sekali dari kenyataan yang sesungguhnya. Mr. Weasley, Harry, Hermione dan Viktor Krum hanyalah beberapa korban dari artikel tulisan Rita Skeeter. Apakah sosok Rita Skeeter dimaksudkan sebagai sindiran untuk media saat ini yang teracuni oleh gosip, berita bohong dan berita yang dibesar-besarkan? Mungkin saja.
  5. Dalam buku ini juga pembaca mulai mengetahui betapa licin, jenius, dan jahatnya Lord Voldemort. Untuk lebih lengkapnya, baca sendiri saja… ;)

Namun selain hal-hal yang bikin mumet diatas, ada juga hal-hal baru dalam buku ini yang bisa membuat pembaca tersenyum. Selayaknya remaja empat belas tahun, tokoh-tokoh utama kita juga mulai saling naksir-naksiran. Harry naksir Cho Chang, Seeker Ravenclaw yang cantik dan setahun lebih tua darinya. Dan tanda-tanda bahwa Ron sebenarnya naksir Hermione mulai tampak dengan jelas ketika ia cemburu berat dengan Viktor Krum yang mengajak Hermione ke Pesta Dansa Natal. Padahal Ron adalah fans berat Krum yang terkenal sebagai Seeker Bulgaria yang hebat. Buku keempat ini juga menyimpan pelajaran bahwa latar belakang seseorang tidak serta merta membuatnya menjadi jahat. Lihat saja Hagrid yang separo-raksasa namun berhati mulia, dan Viktor Krum yang bersekolah di Durmstrang dan punya kepala sekolah mantan Pelahap Maut, namun mengulurkan tangan persahabatan kepada Harry dan kawan-kawan.

Buku keempat ini adalah salah satu buku favorit saya dari ketujuh buku dalam seri Harry Potter. Penggambaran tentang Piala Dunia Quidditch dan tentu saja, Turnamen Triwizard dengan segala tugasnya sungguh-sungguh memesona imajinasi saya. Selain itu, buku ini lebih seru dan menegangkan dengan twist yang tidak terduga.

Memorable Quotes:

“Kau tahu apa yang kuinginkan, Harry? Aku ingin kau menang, ingin sekali. Itu akan menunjukkan kepada mereka semua… kau tak perlu berdarah murni untuk menang. Kau tak perlu malu akan siapa dirimu. Itu akan menunjukkan kepada mereka bahwa Dumbledore yang benar, menerima siapa saja asal mereka bisa menyihir.” – Hagrid, hal. 549

“Kalau kau ingin tahu sifat orang, perhatikan bagaimana dia memperlakukan orang yang kedudukannya lebih rendah darinya, jangan yang sederajat dengannya.” – Sirius, hal. 630

“Mengebaskan rasa sakit untuk sementara, akan membuatnya bertambah sakit saat tiba waktunya kau harus merasakannya.” – Dumbledore, hal. 834

***

Jk_RowlingTanggal 29 April kemarin, BBI mengadakan posting bareng dengan tema buku tentang perempuan atau buku yang ditulis oleh perempuan. Review ini seharusnya diikutsertakan dalam posting bareng tersebut, tetapi sayangnya terlambat dipublish. :-p Namun demikian, saya mau mencantumkan sedikit fakta tentang J.K. Rowling, “Penyihir Wanita Abad Ini” yang menyihir seluruh dunia melalui tulisannya. Ternyata awal perjalanan Harry Potter untuk bisa dicetak dan diterbitkan tidaklah mulus. Dua belas penerbit menolak manuskrip asli Harry Potter yang diajukan oleh J.K. Rowling, namun akhirnya Bloomsbury yang terbilang sebuah penerbit kecil, memberinya kesempatan. Pada waktu itu, belum ada yang tahu bahwa Harry Potter akan menjadi seri buku terlaris sepanjang sejarah. Berkat Harry Potter, J.K. Rowling menjadi bilyuner, dan gara-gara Harry Potter pula, ia harus kehilangan status bilyunernya karena mendonasikan sebagian besar keuntungan yang diperolehnya melalui buku-buku Harry Potter kepada berbagai yayasan amal. (Sumber: dari sini dan sini).

 

Detail buku:

Harry Potter dan Piala Api (judul asli: Harry Potter and the Goblet of Fire), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
896 halaman, diterbitkan Oktober 2001 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 2000)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

7th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 3rd review for Read Big Challenge

hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Selasa, tanggal 7 Mei 2013 pukul 23.59 WIB.



Oidipus Sang Raja – Sophokles

Oidipus Sang Raja (Sophocles), terbitan Pustaka Jaya 2009

Takdir memang kejam. Ups, kalimat pembuka yang lagu balada banget ya. :p Namun ya, di dalam naskah drama/play tragis yang ditulis oleh penyair Yunani Sophokles sekitar tahun 429 SM ini ; Oedipus Rex atau judul Indonesianya Oidipus Sang Raja, dikisahkan upaya manusia yang sia-sia untuk melawan suratan takdir. Oidipus, Raja Negeri Thebes, menyaksikan bahwa negeri yang dipimpinnya dilanda prahara, dan rakyatnya datang memohon pertolongan dari sang raja. Kemudian datanglah Creon, saudara ipar Oidipus, yang mengabarkan bahwa sebab musabab segala penderitaan di Thebes adalah pembunuhan Raja Laius yang terjadi sudah lama sekali, sebelum Oidipus memerintah. Dewa Apollo menuntut agar “noda yang tumbuh di bumi Thebes” itu segera ditebas sebelum tumbuh akarnya. Hutang darah harus dibayar dengan darah, atau hukuman buang bagi si pembunuh. Laius adalah raja Thebes sebelum Oidipus, suami dari Jocasta yang sekarang menjadi istri Oidipus. Oidipus dengan berapi-api berusaha menemukan si pembunuh, sebelum si peramal Teirisias menyatakan bahwa Oidipus-lah sang pembunuh. Merasa kaget dan terhina, Oidipus pun menyangkal. Tak disangka, Jocasta kemudian menceritakan sebuah ramalan dari seorang pendeta wanita yang menyatakan bahwa Laius akan dibunuh oleh putranya sendiri. Karena ramalan itu, saat masih sangat kecil putra Laius dan Jocasta dibuang untuk dibunuh. Ada ramalan lain yang pernah didengar Oidipus sendiri, bahwa ia akan kawin dengan ibunya sendiri dan membunuh ayahnya. Semua kesaksian yang ada menunjukkan bahwa memang benarlah bahwa Oidipus, raja Thebes yang perkasa dan bijaksana, adalah si durjana yang harus membayar untuk perbuatannya di masa lalu.

Dari segi cerita, Oidipus Sang Raja memang menarik dan sarat konflik, sekalipun sangat singkat dan ringkas. Akan tetapi, tema incest-nya memang membuat agak… errrghhh…. Dan herannya Jocasta sepertinya tidak keberatan, bahkan mungkin mengetahui rahasia Oidipus dan membiarkan segala sesuatu terjadi. Simak kutipan di bawah ini…

JOCASTA

Takut? Mengapa lelaki mesti ketakutan?
Hidup adalah jalinan nasib peruntungan.
Sia-sia ditebak oleh tujuman.
Tempuhlah hidup seperti menempuh perjudian.
Takut mengawini bunda kesayangan?
Tak ada alasan!
Sebelum Paduka telah banyak orang melakukan,
Mengawin bundanya dalam impian.
Kenapa sekarang ditakutkan?
Hal-hal aneh tak usah diindahkan.
Agar hidup penuh kepuasan!

Errgghhh banget kan? Sekarang saya paham dari mana istilah Oedipus complex berasal. Membaca buku ini, rasanya tidak tega melihat Oidipus, yang digambarkan sebagai raja yang baik dan bijaksana, harus hancur hidupnya karena menanggung kenyataan pahit. Yang paling saya suka dari play ini adalah bentuknya yang berima seperti puisi, dan diterjemahkan dengan benar-benar indah oleh tidak lain dan tidak bukan, penyair ternama Indonesia, Rendra. Sungguh beruntung saya menemukan buku ini di tumpukan obralan toko buku beberapa waktu lalu, dan bisa membawanya pulang dengan harga sepuluh ribu rupiah saja.

Bukti kecemerlangan Rendra dalam menerjemahkan play ini:

OIDIPUS
Anda mengerti
Tapi tak mau memberi.
Apakah niat telah terpateri,
Untuk mengkhianati negeri
Dan seluruh rakyat kami?

TEIRISIAS
Kuselamatkan Paduka
Dan diri saya,
Kenapa bertanya pula?
Tanpa guna!
Saya menolak bicara!

OIDIPUS
Menolak bicara!
Orang tua tak tahu basa!
Mendengar kata Anda
Batu pun bisa marah jadinya.
Menolak bicara!
Atau bisukah anda, dan keras kepala
Sampai akhir dunia?

TEIRISIAS
Paduka maki watak-watakku!
Paduka caci keras kepalaku!
Tapi, lihatlah!
Kuman di seberang lautan tampak,
Gajah di pelupuk mata tak tampak!

4th review for Let’s Read Plays event / 5th review for New Authors Reading Challenge 2013

Detail buku:

Oidipus Sang Raja (Oedipus Rex), oleh Sophokles
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rendra
148 halaman, diterbitkan tahun 2009 oleh Pustaka Jaya
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Harry Potter and the Prisoner of Azkaban – J.K. Rowling

hp 3 cover

“I solemnly swear that I am up to no good.”

 

Harry Potter yang kini berusia tiga belas tahun sedang dalam masalah besar. Ia tak sengaja menggelembungkan bibinya yang menyebalkan, Bibi Marge. Peristiwa itu mendorongnya kabur dari Privet Drive dengan membawa koper besarnya dan sangkar Hedwig. Harry kemudian terjatuh dan hampir tergilas oleh Bus Ksatria ketika ia melihat sesosok makhluk hitam besar yang menyeramkan. Sesampainya Harry di Leaky Cauldron, ia disambut oleh sang Menteri Sihir sendiri, Cornelius Fudge. Betapa herannya Harry, masalah dengan Bibi Marge sudah terselesaikan dan Harry sendiri luput dari hukuman karena melakukan sihir secara tidak sengaja. Harry mendapat kesan bahwa sungguh aneh Menteri Sihir sendiri yang mengurusi perkara remeh seperti dirinya. Dia belum tahu bahwa narapidana Azkaban yang meloloskan diri—Sirius Black—yang adalah tangan kanan Voldemort, konon mengincar dirinya. Harry dan kawan-kawan pun kembali ke Hogwarts yang telah diberi pengamanan ekstra oleh para Dementor Azkaban yang mengerikan. Hogwarts tak terasa seperti rumah yang aman lagi, dan nyawa Harry terancam. Murid-murid Hogwarts dicekam teror ketika tersiar kabar bahwa Sirius Black telah menyusup ke dalam Hogwarts. Ini hanya berarti satu kemungkinan—bahwa ada pengkhianat di antara mereka yang membiarkan Black masuk ke dalam Hogwarts…

Yang baru dalam buku ini:

-          Bus Ksatria, yang adalah alat transportasi bagi penyihir yang tersesat. Bus dua tingkat berwarna ungu cerah ini bukannya terisi oleh bangku-bangku penumpang, tapi beberapa tempat tidur. Bus ini bisa melompat dari tempat satu ke tempat lain dan segala benda: pohon, rumah, kotak pos—melompat menghindari bus ini yang sedang meluncur dengan serabutan. Seru kali ya, kalau di dunia nyata benar-benar ada bus seperti Bus Ksatria…

-          Dementor, penjaga Azkaban yang menyeramkan. Rupa mereka seperti orang tinggi berjubah hitam dengan tangan basah berkeropeng terjulur. Mereka menghisap segala kebahagiaan dari manusia yang ada di sekitarnya, dan membawa dampak lebih buruk kepada mereka yang mempunyai teror di masa lalu, seperti Harry.

-          Profesor Lupin, guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang baru. Meskipun beliau selalu tampak lusuh dan sering sakit, Lupin adalah guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam terbaik yang Harry dan kawan-kawan pernah miliki. Lupin nantinya mengajari Harry mantra Patronus yang berguna untuk mengusir Dementor.

-          Crookshanks, kucing jingga berekor sikat-botol milik Hermione. Crookshanks sangat ganas terhadap Scabbers, tikus Ron, yang sekarang tampak kurus dan mengenaskan setelah pulang berlibur di Mesir bersama keluarga Weasley. Hal ini membuat Ron dan Hermione banyak bersitegang di dalam buku…

-          Hagrid menjadi guru Pemeliharaan Satwa Gaib yang baru. Pelajaran pertama mereka sangat mengesankan—Hagrid membawa sekawanan Hippogriff sebagai obyek pelajaran mereka, namun sayangnya pelajaran pertama ini dikacaukan oleh ulah Draco Malfoy.

-          Profesor Trelawney, guru Ramalan. Wanita yang kelihatan seperti serangga besar berkilauan ini meramalkan kematian Harry dengan pertanda Grim, anjing hitam besar penjaga kuburan.

-          Desa Hogsmeade, pemukiman sihir terbesar di seluruh Inggris. Murid-murid Hogwarts diijinkan untuk rekreasi ke desa ini pada waktu-waktu tertentu. Di Hogsmeade ada banyak tempat menarik, mulai dari toko permen Honeydukes, Zonko’s Joke Shop, tempat minum Three Broomsticks, sampai dengan Shrieking Shack, tempat paling berhantu di seluruh Inggris.

-          Peta Perampok, yang berisi peta Hogwarts lengkap dengan lorong-lorong rahasia yang belum pernah ditelusuri Harry dan titik-titik berlabel yang menunjukkan setiap orang yang ada di Hogwarts.

-          Dan beberapa hal lain yang kalau dishare di sini bisa jadi spoiler….

Angka tiga adalah angka favorit saya, tapi buku ketiga Harry Potter ini sayangnya bukan favorit saya. Rasanya di paruh kedua buku cerita mulai agak hambar dan endingnya antiklimaks. Yah, but it’s still OK. JKR still amazes me as usual. :) Di buku ketiga ini kisah tentang Harry mulai gelap dan cenderung seram, walaupun tetap ada bagian lucu-lucunya. Yang menarik dari buku ini menurut saya adalah perkembangan hubungan persahabatan antara Harry, Ron dan Hermione. Kadang-kadang pertengkaran hebat yang terjadi dengan sahabat justru malah akan merekatkan persahabatan itu lebih erat lagi… Dengan adanya segala tantangan yang mereka hadapi, mereka jadi semakin teguh berdiri di samping satu sama lain dan saling membantu. That’s what friends are for… :’)

Memorable Quotes:

“Itu menandakan bahwa yang paling kautakuti adalah—ketakutan itu sendiri. Sangat bijaksana, Harry.” – Lupin

“…tapi aku harus bilang kalian, aku kira kalian berdua akan hargai teman kalian lebih daripada sapu atau tikus. Cuma itu.” – Hagrid, menanggapi pertengkaran antara Ron dan Harry dengan Hermione

“Kaupikir orang-orang yang kita cintai, yang meninggal, benar-benar meninggalkan kita? Menurutmu tidakkah kita malah mengingatnya dengan lebih jelas daripada kapan pun, waktu kita dalam kesulitan besar? Ayahmu hidup dalam dirimu, Harry, dan menunjukkan dirinya paling jelas waktu kau membutuhkannya.” – Dumbledore

Dan….

“Mischief managed.” ;)

***

Detail buku:

Harry Potter dan Tawanan Azkaban (judul asli: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
544 halaman, diterbitkan Maret 2001 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1999)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

6th review for  What’s in a Name Reading Challenge 2013 | 2nd review for Read Big Challenge

 hotter potter logo-1

Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan hari Senin, tanggal 1 April 2013 pukul 23.59 WIB.