Surgabukuku Special Giveaway!

special GA button

Hullo!

Sesuai judul postnya, giveaway kali ini memang spesial. Karena ada beberapa hal yang saya rayakan:

  1. 500+ likes di Facebook Page Surgabukuku (sekarang ini malah sudah 600 lebih, gak tahu kenapa, saya gak pake promote page atau semacamnya. Untuk likers di Facebook akan ada giveaway khusus yang diluncurkan besok.)
  2. URL baru http://surgabukuku.com. Beberapa teman-teman BBI pasti sudah pada tahu mengapa saya tiba-tiba mendomainkan blog. Tapi sebenarnya sih niat mendomainkan sudah lama ada, hanya saja sebelumnya saya tunda-tunda terus karena frekuensi bloggingnya juga masih suka mampet XD. Nah, karena ada sesuatu hal yang “memaksa” saya mendomainkan blog, akhirnya http://surgabukuku.wordpress.com pun dengan sukses berubah jadi http://surgabukuku.com per 23 Februari 2015 kemarin. Semoga dengan URL baru ini saya makin rajin blogging, ya! ;) )
  3. Kemarin saya mendapat job penerjemahan buku untuk pertama kalinya. Walaupun saya tidak akan bekerja sendirian untuk menerjemahkan 1 buku itu, but still, I’m grateful!
  4. Hari lahir saya yang jatuh pada… (uhuk) well, sebentar lagi. Gak perlu disebutin lah ya ultah ke berapa XD

Dalam Special Giveaway ini saya akan ngasih hadiah untuk 3 (tiga) orang pemenang: 2 (dua) orang pemenang diambil dari GA di blog dan 1 (satu) orang lagi dari GA di Facebook Page.

2 (dua) orang pemenang Giveaway di blog masing-masing boleh memilih salah satu dari pilihan hadiah di bawah ini:

  • 1 (satu) buah buku pilihan sendiri senilai max USD 10 dari Bookdepository.com
  • Gift certificate senilai USD 10 dari Betterworldbooks.com
  • Max 2 (dua) buah buku dari toko buku online lokal senilai max Rp 100.000 (seratus ribu rupiah). Toko buku online lokal misalnya bukabuku.com, periplus.com, opentrolley.co.id, tokobuku.getscoop.com, pengenbuku.net, dan sebagainya. Ongkir akan saya tanggung.

Simak persyaratan ikut giveaway berikut ini:

  1. [WAJIB] Tinggalkan komentar di salah satu post review buku di blog Surgabukuku (bukan di post ini). Komentar harus relevan dengan isi review dan buku yang bersangkutan, jadi bukan sekadar “bukunya keren” atau “ih, covernya lucu” dan semacamnya. Periode komentar: 2 – 28 Maret 2015, jadi komentar lama tidak dihitung :). Tip: kamu bisa browse semua post review di blog Surgabukuku melalui Page A-Z Index Reviews atau Tag Book Reviews.
  2. [WAJIB] Mengisi form Google Docs di bawah ini. Salah satu isian wajib adalah buku yang dipilih jika menang giveaway ini (isikan judul – pengarang, atau link buku tersebut di toko buku online). Judul buku yang dipilih harus yang masih ready stock, jika pemenang memilih buku yang sudah out-of-print, maka saya akan memilihkan buku yang ready stock sesuai ketentuan harga hadiah. Perlu diperhatikan bahwa pemenang akan dipilih secara random, tapi satu dari dua orang pemenang akan saya pilih dari yang memilih buku dengan genre Klasik.
  3. [TIDAK WAJIB] Tinggalkan komentar di post ini. Isi komentar bebas.
  4. [TIDAK WAJIB] Share giveaway ini di Twitter/Facebook. Kamu hanya perlu share sekali saja. Copy-paste link sharenya di form Google Docs.

Persyaratan umum:

  1. Peserta giveaway berdomisili di Indonesia.
  2. Satu entri untuk satu peserta. Jadi semua orang memiliki kesempatan menang yang sama. Kalau mau komen di lebih dari 1 post tidak dilarang, tapi untuk giveaway ini hanya 1 komentar per orang yang dihitung ya.
  3. Giveaway dibuka mulai tanggal 2 Maret 2015 sampai tanggal 28 Maret 2015 pukul 23.59 WIB.
  4. Pemenang giveaway akan diumumkan di blog ini tanggal 31 Maret 2015 pukul 09.00 WIB. Saya akan menghubungi pemenang secara pribadi melalui alamat e-mail, dan yang bersangkutan wajib membalas dalam waktu 2×24 jam, kalau tidak akan dipilih pemenang yang lain.
  5. Punya pertanyaan? Hubungi saya di Twitter @melmarian.

That’s it! May the odds be ever in your favor! #salamtigajari ;)

Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) :P

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. :)

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! :)

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*

Reading Challenges 2015 – Part II

Masih dalam rangka ikutan reading challenges di tahun 2015, ternyata saya menemukan beberapa RC lagi yang cocok dengan daftar TBR saya tahun ini. Semoga dengan ikutan beberapa RC ini saya bisa kecipratan hadiahnya makin semangat membabat timbunan! :D

nonfiction-reading-challenge-2015Yang pertama adalah Non Fiction Reading Challenge 2015 yang dihost oleh Lensa Buku. Asyiknya RC ini: tidak ada jumlah minimal buku yang harus dibaca, dan tema bebas selama masih masuk kategori nonfiksi.

Kebetulan saya berencana membaca 8 buku nonfiksi selama tahun 2015 (walau nggak janji akan menulis review untuk semuanya sih :D ), sebagai berikut:

  1. Unstoppable – Nick Vujicic
  2. The Last Emperor – Paul Kramer
  3. Sense & Sensuality – Ravi Zacharias
  4. Jesus Among Other Gods – Ravi Zacharias
  5. The Geography of Bliss – Eric Weiner
  6. Battle Hymn of Tiger Mother – Amy Chua
  7. The Diary of a Young Girl – Anne Frank
  8. The Railway Man – Eric Lomax

Dari ke-8 buku diatas, saya menargetkan bisa menulis 5 review. Semoga tercapai!

APHRCMasih bau-bau non fiksi, begitu membaca tentang Asia Pacific History Reading Challenge 2015 yang dihost oleh Blog Buku Helvry, saya langsung tertarik untuk ikutan. Sama seperti Non Fiction RC, Asia Pacific History RC ini tidak mensyaratkan jumlah minimal buku yang harus dibaca & direview, dan untuk mengikuti RC ini juga boleh membaca memoar serta buku fiksi sejarah! Ada 3 buku yang akan saya baca untuk RC ini:

  1. The Last Emperor – Paul Kramer (nonfiksi)
  2. The Railway Man – Eric Lomax (nonfiksi)
  3. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer (fiksi)

lucky-no15Lalu yang terakhir, adalah sebuah RC dengan 15 kategori seru, Lucky no. 15 Reading Challenge yang dihost oleh Books to Share. Ini kali pertama saya ikut RC ini. Berikut ini kategori-kategorinya:

  1. Chunky Brick: Dunia Sophie – Jostein Gaarder (800 halaman adalah bukti keseksian buku ini)
  2. Something New: Good Wives – Louisa May Alcott
  3. Something Borrowed: Iliad – Homer (pinjam dari Mbak Fanda)
  4. It’s Been There Forever: Ben-Hur: A Tale of the Christ – Lew Wallace
  5. Freebies Time: Amba – Laksmi Pamuntjak
  6. Bargain All The Way: Battle Hymn of Tiger Mother – Amy Chua (dibeli dengan harga Rp 20.000)
  7. Favorite Color: The Geography of Bliss – Eric Weiner (blue :) )
  8. First Initial: The Master and Margarita – Mikhail Bulgakov (judulnya pun punya 2 huruf M)
  9. Super Series: Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer (Tetralogi Pulau Buru #1)
  10. Opposites Attract: The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde (a VERY attractive opposite, indeed ;) )
  11. Randomly Picked: no. 7 dari 25 buku yang ada di list TBR 2015, The Last Emperor – Paul Kramer
  12. Cover Lust: Little Women – Louisa May Alcott (nggak beli karena ini buku dari SS 2014, hope that’s okay) – REVIEW
  13. Who Are You Again?: The Poisonwood Bible – Barbara Kingsolver
  14. One Word Only!: Unstoppable – Nick Vujicic
  15. Dream Destination: The Secret Garden – Frances Hodgson Burnett (Yorkshire!!!)

 Nah, kalau kamu juga berminat ikut reading challenges diatas, silakan klik langsung ke masing-masing blog yang menjadi host ya. Cheers!

Reading Challenges 2015

Setelah gagal total menyelesaikan hampir semua reading challenge yang diikuti di tahun 2014 (no wrap-up post, bikin malu soalnya :P ), tahun ini saya ingin mencoba lagi ikut beberapa reading challenge. Sebelumnya saya sudah menyusun daftar buku yang ingin dibaca tahun ini, lalu browsing reading challenges yang dihost teman-teman BBI, baru kemudian memutuskan mau ikut yang mana saja. Semoga dengan ikut reading challenges di tahun 2015 ini saya bisa kembali aktif baca dan blogging seperti dulu ya, karena denger-denger ada yang kangen sama postingan-postingan saya tuh. #geer #abaikan.

Langsung saja, berikut ini adalah daftar buku yang (hopefully) akan saya baca selama tahun 2015, kesemuanya diikutkan dalam Project Baca Buku Cetak yang dihost oleh Ren’s Little Corner:

pbbc2

FIKSI:

  1. Little Women – L.M. Alcott (ind)REVIEW
  2. Good Wives – L.M. Alcott (ind)
  3. Amba – Laksmi Pamuntjak (ind)
  4. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer (ind)
  5. Uncle Tom’s Cabin – Harriet Beecher Stowe (ind)
  6. Suite Francaise – Irene Nemirovsky (ind)
  7. The Murder of Roger Ackroyd – Agatha Christie (ind)
  8. Iliad – Homer (ind)
  9. Odyssey – Homer (ind)
  10. Dunia Sophie – Jostein Gaarder (ind)
  11. The Secret Garden – Frances Hodgson Burnett (eng)
  12. The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde (eng)
  13. The Screwtape Letters – C.S. Lewis (eng)
  14. The Master and Margarita – Mikhail Bulgakov (eng)
  15. The Poisonwood Bible – Barbara Kingsolver (eng)
  16. The Pilgrim’s Progress in Today’s English – John Bunyan (eng)
  17. Ben-Hur: A Tale of The Christ – Lew Wallace (eng)

NON FIKSI:

  1. Unstoppable – Nick Vujicic (ind)
  2. The Last Emperor – Paul Kramer (ind)
  3. Sense & Sensuality – Ravi Zacharias (ind)
  4. Jesus Among Other Gods – Ravi Zacharias (ind)
  5. The Geography of Bliss – Eric Weiner (ind)
  6. Battle Hymn of Tiger Mother – Amy Chua (ind)
  7. The Diary of a Young Girl – Anne Frank (eng)
  8. The Railway Man – Eric Lomax (eng)

NARC 2015Dari ke-25 buku di atas, 15 buku saya ikutkan di New Authors Reading Challenge 2015 (Easy level), yang juga dihost oleh Ren’s Little Corner.

  1. Little Women – L.M. Alcott (ind)REVIEW
  2. Amba – Laksmi Pamuntjak (ind)
  3. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer (ind)
  4. Suite Francaise – Irene Nemirovsky (ind)
  5. Uncle Tom’s Cabin – Harriet Beecher Stowe (ind)
  6. Iliad – Homer (ind)
  7. The Master and Margarita – Mikhail Bulgakov (eng)
  8. The Poisonwood Bible – Barbara Kingsolver (eng)
  9. Ben-Hur: A Tale of The Christ – Lew Wallace (eng)
  10. The Pilgrim’s Progress in Today’s English – John Bunyan (eng)
  11. The Last Emperor – Paul Kramer (ind)
  12. The Geography of Bliss – Eric Weiner (ind)
  13. Battle Hymn of Tiger Mother – Amy Chua (ind)
  14. The Diary of a Young Girl – Anne Frank (eng)
  15. The Railway Man – Eric Lomax (eng)

read big 2015Satu lagi, saya juga ikut Read Big Challenge 2015 yang tahun ini dihost oleh Mari Ngomongin Buku. Saya mengambil level Middleweight alias Kelas Menengah dengan 6 buku:

  1. Dunia Sophie – Jostein Gaarder, 800 hal
  2. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer, 535 hal
  3. Uncle Tom’s Cabin – Harriet Beecher Stowe, 612 hal
  4. Suite Francaise – Irene Nemirovsky, 642 hal
  5. The Geography of Bliss – Eric Weiner, 512 hal
  6. The Poisonwood Bible – Barbara Kingsolver, 546 hal

Sementara itu saja reading challenges yang saya ikuti di tahun 2015 (masih ada kemungkinan nambah, tapi semoga aja tidak sih :D ). Semoga tahun ini saya bisa menyelesaikan semuanya! Semangat! #gulunglenganbaju

Book Kaleidoscope 2014: Favorite Books

book-kaleidoscope-2014-button

Two historical fiction books, one history book, one modern classic and one Victorian classic, here are my top 5 favorite books of 2014:

#5. Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSC

The only Indonesian fiction in this list, Pulang (“Going Home” in English) connects three historical events: 1965 tragedy in Indonesia, 1968 student revolution in Paris, and May 1998 riots in Indonesia. This book is emotional and beautifully written. I rarely read Indonesian literature, but a few books that I have read – usually they contain historical and cultural themes – made me want to read more and to refresh my memory of Indonesian history.

#4. Silence – Shusaku Endo

silence

This book attempts to convey the great question of faith; if your faith in God is being challenged, or even persecuted, what will you do? Of course you will try with all your strength to keep your faith. But what if it will cause someone else to suffer? Sebastian Rodrigues is a Jesuit pastor who does missionary work in Japan. As he endured persecution and watched the members of his congregation being tortured as the result of his refusal to deny Christianity, he cried to God to take action, to end His people’s suffering—but He kept silent. This book is vividly written, thought-provoking and it possesses the ability to shake your spirituality.

 #3. The Giver – Lois Lowry

the giver

To think of a world that everything is carefully planned, meticulously ordered… so perfect it hurts. There is no difference, no jealousy, and no emotion in Jonas’s world. There is no love, only Sameness. Then Jonas was chosen to be a Receiver of Memory, and he saw, heard, and felt everything that was hidden before. All I could think after reading this book is: the world could have been a completely different place. Even though now we live in a world that suffers from war, injustice, famine, and terror, we still have love. If that’s not something to be grateful for, then what should be? I read this book in Indonesian translation, but I intend to read it in English soon.

 #2. The Professor and the Madman – Simon Winchester

professor and madman

The only non fiction on this list—but with a taste of fiction. This book tells the extraordinary tale of the people behind the making of Oxford English Dictionary, especially about two men: Professor James Murray and Dr. W. C. Minor. As Professor Murray led a team to collect entries for the dictionary, he realized that one Dr. W. C. Minor submitted more than ten thousand entries. Fascinated, Professor Murray then decided to pay Dr. Minor a visit. From there readers are being told about Minor’s long history: as an American Civil War veteran, as a genius, as a murderer and as an inmate of an asylum. I was lost easily in the story and forgot that this is a history book, not fiction. If only all history books are written in the way Simon Winchester wrote this book :).

 #1. Jane Eyre – Charlotte Bronte

jane eyre

Jane Eyre is one of my all-time favorite, it is a tale of a modest but strong-willed governess who found her equal in the form of her eccentric master, Mr. Rochester. I personally think this book as a parade of strong characters, Jane and Rochester being in the front row. I adore Jane’s qualities; that she desires more of the world than the 19th century society allow women to have, that she holds integrity in the face of making a tough decision, and that she doesn’t cease to love Mr. Rochester even after the incident that disabled him. On my first reading of Jane Eyre, I didn’t like Mr. Rochester and thought him insufferable—but then when reading it for the second time; I was able to put his character in a different light. I pitied him for what happened in his past—it still haunts him long after—and then he met Jane, which was the best thing that could have happened to him. Jane completes him, makes him a better man. He loves her in return, offered her an affectionate home that she never had before. They are just… the perfect couple, even though neither of them is perfect. This book has everything I love in a passionate romance, and it doesn’t even have any sex scenes (perhaps the author purposefully left that out to leave some space for the readers’ imagination). I will love this book for ever, and reread it once every 3 or 5 years, if possible. :)

Book Kaleidoscope 2014: Book Boyfriends

book-kaleidoscope-2014-button2014, the year of ups and downs. Please forgive my being late to post this, but I feel that my year of books would not be wrapped up properly without posting Book Kaleidoscope. However, from the 5 categories provided by Fanda Classiclit, this time I only take 2, one of them is:

Book Boyfriends

I only came up with 3 characters for this category, and they are:

Theodore “Laurie” Laurence from Little Women

Laurie is March girls’ next door neighbor, a wealthy boy who is often bored, bad-tempered, and like other normal boys, prone to do some mischief. At first he’s shy, but with time he became good friends with the March girls, especially with Jo. The story of March girls becomes even more colorful with Laurie in the picture. And, if one wants to see a silly Christian Bale for a change, one only needs to watch the 1994 adaptation of Little Women.

Christian Bale as Laurie

Christian Bale as Laurie

 


Alec McGrath from The Penderwicks at Point Mouette

Skye, Jane, Batty, and Jeffrey meet Alec on their summer vacation at Point Mouette in Maine. He owns the house right next to the one the Penderwick girls and Jeffrey are staying at. Alec is described as a friendly single man who also happens to be a musician. Jeffrey grew to admire him because they share the same interest in music. In the book, Alec is a crucial part of a major turn of event, and it was heartwarming to see how he handles himself and take care of things and people afterwards. I can’t spoil this important part though; you have to read it yourself!

The Penderwicks at Point Mouette is the third book of The Penderwicks series, none of the books have been adapted into films yet. I took time to think who would best portray Alec; he should be 40 ish, good looking but not too handsome, someone who people would like to be friends with after they see him the first time. John Cusack, perhaps?

John Cusack …

John Cusack …

 


 Edward Fairfax Rochester from Jane Eyre

Mr. Rochester is not handsome, he is twice Jane’s age, eccentric, rude and abrupt, almost violent sometimes. He also keeps a horrible secret and is constantly haunted by the past. In short, he is far from the Darcy-ish perfection. But he is also strong, witty, and passionate; these traits make him and Jane a perfect couple. I actually enjoy their long conversations, and I think that their dynamic is the heart of the book. I’m a proud member of Team Edward. Rochester, not Cullen.

I agree with most people that Toby Stephens played the best Mr. Rochester so far, but this guy below was not so bad at all.

Michael Fassbender Jane Eyre

Michael Fassbender as Mr. Rochester

Book & Riddle from Secret Santa 2014

Happy New Year!

Sebelumnya saya minta maaf atas posting yang telat banget ini yaa… Kalau boleh sedikit curhat, tahun 2014 yang baru saja berlalu merupakan tahun yang agak sulit buat saya, termasuk dalam hal membaca buku dan blogging. Tahun ini, saya berharap banget bisa kembali aktif baca dan blogging seperti dulu. *Amin*

Tapi, di akhir tahun 2014 kemarin ada satu hal yang membuat saya super hepi, yaitu nggak lain dan nggak bukan adalah datangnya kado dari Secret Santa!

 Santa yang mengaku bernama Louisa M.A. ngasih saya kado berikut ini:

buku SS 2014

Selain buku Little Women (yang covernya saya suka banget! ♥), Santa juga menghadiahkan salah satu merchandise BBI yaitu tote bag. Hmmmm, Santa kok tahu ya saya nggak pesan tote bag waktu lalu? Jangan-jangan…….

Lalu, ini gambar close-up riddle yang dikasih Santa Louisa M.A.: riddle SS 2014

Sepertinya Santa Louisa ini kawan lama deh… Terima kasih atas kadonya dan terima kasih udah dikangenin ya Santa, I’m sure I miss you too. *kecups*

All I Want For Christmas Are These… (Wishlist Secret Santa 2014)

SecretSanta2014

Event Secret Santa merupakan event BBI yang paling saya tunggu-tunggu setiap tahunnya. Betapa tidak, seiring dengan kesibukan, saya semakin jarang (bahkan belakangan ini nggak pernah) ikut event posting bareng, dan juga berbagai kendala membuat saya belum bisa join event-event offline dimana BBI terlibat di dalamnya (bukannya nggak kepengen, lho… :( ).

Nah, melalui event Secret Santa ini, acara tukar kado akhir tahun jadi semakin seru karena Sang Santa harus memburu buku (atau buku-buku) yang jadi wishlist si Target atau X, bikin riddle, dan juga menebak siapa Secret Santanya. Inilah yang bikin saya nggak kapok ikutan event Secret Santa, bahkan setelah 3 tahun berturut-turut. My secret wish is; semoga kali ini saya dapat Target member BBI baru yang sama sekali belum saya kenal :D

Okeh, curhatnya cukup, sekarang saya mau kasih daftar buku yang paling dipengenin saat ini ya, Santa. FYI aja saya nggak mungkin bisa ngereview lebih dari 1 buku untuk event ini, tapi kalo Santa berbaik hati mau kasih saya 2 buku, saya juga nggak nolak sih, buakakakakaka :D

Here are all the books I want for Christmas (diurutkan dari yang paling dipengenin):

little women

Little Women (Gadis-gadis March) – Louisa May Alcott. Rp 52.700 di BukaBuku

maxhavelaar-53ed6b1c40fbf

Max Havelaar – Multatuli. Rp 50.150 di Mizan Store

barnaby brocket

The Terrible Thing That Happened to Barnaby Brocket – John Boyne. Rp 90.000 di Periplus

ben-hur

Ben-Hur: A Tale of The Christ – Lew Wallace. Rp 78.200 di BukaBuku

 Empat buku aja supaya Santa gak terlalu kesulitan memilih :) Make my wish come true ya, Santa!

Beyond Sherlock Holmes – Muthia Esfand

beyond sherlock holmesSaya harus mengakui bahwa yang menjadi ide disusunnya buku ini sangat menarik. Apakah para pengarang kisah detektif terkenal sehebat tokoh-tokoh fiksi yang mereka ciptakan dalam memecahkan suatu kasus misteri? Apakah mereka juga pernah terlibat langsung dalam suatu kejadian misterius sehingga dapat menuangkannya dengan begitu piawai di atas kertas?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memenuhi benak penyusun buku Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum sehingga buku ini bisa hadir di tangan pembaca. Ada tujuh kasus yang disorot dalam buku ini, masing-masing melibatkan nama-nama pengarang novel detektif terkenal dunia, antara lain:

 

Sir Arthur Conan Doyle dan Misteri Pembunuhan di Queens Terrace

Seorang perempuan kaya berusia senja ditemukan tewas di flatnya karena dipukul benda tumpul. Kasus ini membingungkan semua orang karena Miss Gilchrist tua dikenal sebagai kolektor perhiasan mewah, namun ketika peristiwa pembunuhan terjadi, benda yang hilang hanyalah sebuah bros permata kecil bersama beberapa dokumen penting. Apa yang menjadi motif pembunuhan ini? Dan siapa pelakunya? Sir Arthur Conan Doyle kemudian melibatkan diri dalam pemecahan kasus ini dengan berusaha membuktikan bahwa terdakwa yang ditangkap polisi atas kasus ini sebenarnya tidak bersalah.

Misteri 11 Hari Menghilangnya Agatha Christie

Bagi para penggemar Agatha Christie, kasus ini pastilah menjadi salah satu detail mengenai kehidupan Agatha Christie yang paling sensasional sekaligus misterius. Suatu pagi di musim dingin tahun 1926, mobil Mrs. Christie ditemukan di sekitar daerah Guildford, sebelah barat daya London, oleh seorang pemuda gipsi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pengemudi mobil. Peristiwa menghilangnya Queen of Crime ini menghebohkan seantero Inggris sampai 15.000 orang relawan ikut sibuk membantu aparat polisi mencari Mrs. Christie, demi imbalan 100 poundsterling. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Agatha Christie merilis salah satu novel terbaiknya, The Murder of Roger Ackroyd. Banyak pihak kemudian berasumsi bahwa peristiwa menghilang ini hanya akal-akalan promosi supaya novelnya semakin laris.

Sir Arthur Conan Doyle dan Skandal Great Wryley

Tahun 1906 boleh dibilang adalah tahun vakum bagi Conan Doyle. Saat itu beliau lebih sibuk mencoba menggali kasus George Edalji, seorang pengacara keturunan India yang dipenjarakan karena tuduhan membunuh dan memutilasi sejumlah hewan ternak pada tahun 1903. Berkat petisi yang ditandatangani sepuluh ribu orang, Edalji akhirnya hanya menjalani tiga tahun dari hukuman yang semestinya berlangsung tujuh tahun. Namun nama baiknya tidak dipulihkan dan ia tidak bisa meneruskan karir sebagai pengacara. Conan Doyle, yang percaya bahwa pria itu tidak bersalah, berusaha mengumpulkan fakta yang dapat membersihkan nama Edalji.

PD James vs. Dorothy L. Sayers: Pembunuhan Brutal di Anfield

Pembunuhan misterius pada kenyataannya dapat terjadi dimanapun, bahkan dalam rumah “bermartabat” yang ada di Anfield, Liverpool. Kasus pembunuhan brutal Julia Wallace di dalam rumahnya sendiri adalah salah satu kasus yang sampai saat ini tidak terpecahkan. Suami Julia, William Herbert Wallace, ditetapkan menjadi tersangka utama pembunuhan tersebut, namun ia akhirnya dibebaskan melalui banding. Dua orang pengarang novel misteri, Dorothy L. Sayers dan PD James,  menulis analisis versi masing-masing yang mencoba memecahkan kasus ini.

Patricia Cornwell dan DNA Sang Pencabik

Jack the Ripper adalah sosok pembunuh sadis yang sampai saat ini namanya masih membuat bulu roma meremang. Betapa tidak, setelah membunuh korbannya, pembunuh yang beroperasi di Distrik Whitechapel di London tahun 1800-an ini selalu mencabik lalu mengambil satu atau beberapa organ tubuh korbannya. Yang masih menjadi misteri, siapakah sesungguhnya Jack the Ripper? Banyak orang saling berlomba untuk menyelidiki jati diri Sang Pencabik. Salah satunya adalah pengarang novel kriminal Patricia Cornwell. Yang dilakukan Cornwell tidak tanggung-tanggung, ia membeli beberapa lukisan dengan obyek Jack the Ripper untuk melakukan tes DNA. Ia mencurigai bahwa sang pelukis, Walter Sickert, adalah Jack the Ripper.

Edgar Allan Poe dan Kasus Ganjil Mary Rogers

Yang ini adalah salah satu contoh kasus nyata yang kemudian “difiksikan”. Si cantik Mary Rogers yang tinggal di New York, pernah menghilang dua kali, yakni pada tanggal 4 Oktober 1838 dan 25 Juli 1841. Kalau pada peristiwa menghilang yang pertama kali Mary kembali tanpa cacat, pada peristiwa menghilang yang kedua ia baru ditemukan 3 hari kemudian, terapung di sebuah sungai dalam keadaan tak bernyawa. Publik langsung mencurigai bahwa Daniel Payne, tunangan Mary sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Namun kecurigaan ini patah ketika Daniel ditemukan tewas bunuh diri beberapa bulan setelahnya. Kasus yang tidak pernah terpecahkan ini kemudian difiksikan oleh Edgar Allan Poe dengan judul The Mystery of Marie Rogêt, diterbitkan tiga seri dalam majalah Snowden’s Ladies’ Companion tahun 1842-1843.

Steve Hodel dan Kasus Horor Black Dahlia

Pembunuhan sadis dan wanita cantik adalah kombinasi yang bisa menggegerkan seluruh negeri. Kali ini yang menjadi korban adalah Elizabeth Short, seorang aktris cantik yang mayatnya ditemukan tanpa busana dan terpotong menjadi dua bagian. Konon julukan “Black Dahlia” berasal dari berita yang mengatakan bahwa pakaian terakhir yang dikenakan Elizabeth Short adalah rok mini ketat dan blus tipis. Bertahun-tahun kemudian, kasus ini diselidiki ulang oleh Steve Hodel, yang adalah putra dari George Hodel yang pernah menjadi tersangka pembunuh Black Dahlia.

***

Saya sebenarnya bukan penggemar berat novel detektif. Saya hanya pernah membaca satu kumpulan cerita Sherlock Holmes, dua judul novel Agatha Christie, dan beberapa novel detektif lain, misalnya karya Jeffery Deaver dan The Cuckoo’s Calling-nya Robert Galbraith alias. J.K. Rowling. Namun saya mengakui membaca novel detektif itu mengasyikkan, karena pembaca akan ikut deg-degan saat tokoh detektif jagoan dalam novel berusaha memecahkan sebuah kasus. Belum lagi jika sang pengarang dengan briliannya “menipu” mentah-mentah para pembaca dengan ending yang tak terduga. Nah, buku ini mengupas sisi lain dari para pengarang novel detektif terkenal tersebut, khususnya dalam keterlibatan mereka dalam kasus misterius yang benar-benar pernah terjadi. Membaca buku ini mengasyikkan karena kita diajak menelusuri kasus-kasus tersebut. Buku ini juga dilengkapi dengan salinan dokumen terkait misalnya surat-surat, arsip surat kabar, peta lokasi kejadian, foto korban, foto tersangka, foto TKP, dan sebagainya. Bahkan ada beberapa area kosong yang disediakan bagi pembaca untuk menulis “temuan”. Hanya saja, ada beberapa kekurangan yang saya temukan dalam buku ini:

Halaman 53: “Jumat pagi, 3 Desember 1926, setelah naik ke lantai atas rumahnya untuk memberikan kecupan selamat tidur kepada putri tunggalnya, Rosalind, sekitar pukul 21.45 Agatha Christie terlihat memacu mobil Morris Cowley hijau meninggalkan rumahnya di Styles.” Sebentar, Jumat pagi?

Halaman 120, New York salah ketik menjadi “Ney York”.

Ada beberapa bagian yang membuat saya “salah fokus” alias kenikmatan membaca saya jadi sedikit terganggu:

Halaman 72-73: “Darah yang mengalir dalam diri Sharpuji sepenuhnya darah India-Parsi dan, yeah, nyaris seperti Hermione dalam Harry Potter, ada saja orang-orang yang menganggapnya berstatus ‘darah lumpur’.” Menurut saya penulis dapat menyampaikan maksudnya mengenai status keturunan campur Sharpuji Edalji tanpa harus menyebut-nyebut Hermione.

Halaman 122: “Bayangan Mary mungkin saja mengalami kecelakaan, mulai berkecamuk dalam kepala sang ibu. Itulah luar biasanya seorang ibu, apa-apa yang membuat buah hatinya menderita, dirasakannya dua kali lipat lebih dalam. Beri hormat pada seluruh ibu di muka bumi.Hmmm, dua kalimat yang saya garis bawahi itu kok rasanya tidak pada tempatnya, tidak cocok dengan isi buku ini secara keseluruhan.

Yang terakhir, halaman dedikasi yang letaknya di akhir buku (yang ini bukan kekurangan, sih, hanya aneh saja.)

Selain memperkaya pengetahuan pembaca, buku ini juga menyodorkan fakta bahwa ada banyak sekali kasus yang tak pernah terpecahkan sampai saat ini. Ternyata memang yang namanya misteri tak selalu bisa terjawab!


N.B.: Terima kasih buat Penerbit Visimedia dan bapak peri BBI Dion Yulianto buat kesempatan mereview buku ini. Sekedar informasi, buku ini adalah buku buntelan pertama yang saya terima sejak tahun 2012, dan post ini adalah post review pertama yang saya tulis sejak bulan Februari 2014. So, again, thanks. :)

Detail buku:

Beyond Sherlock Holmes: Kisah Nyata Penulis Detektif Dunia Memecahkan Kasus Hukum, oleh Muthia Esfand
158 halaman, diterbitkan 2014 oleh Penerbit Visimedia
My rating: ♥ ♥ ♥

Wishful Wednesday (26)

Jarang-jarang nih saya kepengen baca buku memoar/autobiografi, kecuali kalau ada sebab khusus yang membuat saya kepengen baca buku tersebut. Untuk buku yang satu ini, saya tertarik baca karena sudah nonton filmnya terlebih dahulu (yang dibintangi antara lain oleh Colin Firth, Nicole Kidman, dan Jeremy Irvine), dan menurut saya filmnya BAGUS BANGET. (sengaja pake capslock)

The Railway Man, oleh Eric Lomax

railway man

Berikut sinopsisnya, diambil dari Goodreads:

During the second world war Eric Lomax was forced to work on the notorious Burma-Siam Railway and was tortured by the Japanese for making a crude radio.

Left emotionally scarred and unable to form normal relationships Lomax suffered for years until, with the help of his wife Patti and the Medical Foundation for the Care of Victims of Torture, he came to terms with what had happened and, fifty years after the terrible events, was able to meet one of his tormentors.

The Railway Man is an incredible story of innocence betrayed, and of survival and courage in the face of horror.

Winner of the Waterstones Esquire Award for Non-Fiction, the JR Ackerley Prize and the NCR Book Award.

Beberapa hal yang bikin saya tertarik sama buku ini:

  • Buku ini menceritakan pergulatan emosional mereka yang terlibat dalam perang jauh sesudah perang tersebut berakhir.
  • Pihak-pihak yang menjadi sorotan dalam buku ini: tentara Inggris dan tentara Jepang di negeri Burma-Siam. Ini salah satu sisi Perang Dunia II yang belum pernah saya sentuh.
  • Konon buku ini adalah salah satu bukti mujarabnya writing as a form of therapy.
  • Average rating buku ini di Goodreads 4.13.
  • Dalam filmnya, akting Colin Firth luar biasa bagus. Ternyata memang British actor yang satu ini bukan sekedar Mr. Darcy. He’s so much more than Darcy! Eh… lah kok jadi salah fokus ke Colin Firth sih. :-P

Ini trailer filmnya:

Jadi, buku di atas itu yang jadi inceran saya di Wishful Wednesday kali ini. Gimana dengan kamu?

***

Wishful Wednesday adalah blog hop yang dihost oleh blog Books to Share. Berikut ini ketentuannya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)