Thoughts Corner: My Never-Ceasing Dilemma of Reading Classic Literature

I do not come from an English-speaking country. I fell in love with classic literature some years ago, and I started off mostly by reading Indonesian translations, and with time I read more and more classics in English. I also read works that are originally written in other languages than English—French and Russian for example—but since I can’t read those other languages, reading in English translation would have to suffice.

Some of my classics collection: Indonesian translations on the top row and books in English on the bottom row

Some of my classics collection: Indonesian translations on the top row and books in English on the bottom row

So when it comes into reading classic literature, I face a major problem: to read it in English or to read it in the Indonesian translation?

I read classics in Indonesian translations because:

  • they are easier to understand, hence faster to read
  • they are mostly cheaper than the books written in English
  • to show appreciation to the translators and publishers who made it possible for a classic literary work to be translated into Indonesian. I know it’s not easy, especially when the market for classic literature in Indonesia is not really promising. So I think they really need the appreciation.
  • as a way to promote world classic literature in Indonesia, especially to those who we can consider “beginners”. Translated books are more accessible, affordable, and understandable to them.

But then, being the perfectionist that I am, after some years of reading classics in both Indonesian translation and English, I can’t help the feeling that I’m missing the “true flavour” of a classic when I’m reading Indonesian translated version. Because somehow in the process of translating and editing, the meaning of a sentence or a paragraph can change. It’s not that Indonesian translated classics are all bad; there are a lot of books that are translated wonderfully, some even came with added “Indonesian flavour”, like Landung Simpatupang’s translation of Nineteen-Eighty Four by George Orwell.

So the problem lies here: while I still want to read Indonesian translations because of the above reasons, I also don’t want to lose hold of the true meaning of a literary work, which in my opinion can be expressed better in English. But, to be honest, there are times that I prefer to read Indonesian translations just to save time! LOL. Aside from being a perfectionist, I am also a moody and a very slow reader.

Do you face the same problem as I do? If yes how would you deal with this dilemma? Please let me know in the comments!

Surabaya Punya Cerita Vol. 1 – Dhahana Adi

sby punya ceritaJudul bukunya Surabaya Punya Cerita. Jujur saja, pertama kali saya tahu tentang buku ini (melalui tweet dari @indiebookcorner) saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen dengan setting kota Surabaya. Karena belum pernah baca buku bertemakan Surabaya, maka ketika saya melihat buku ini bertengger manis di rak di salah satu toko buku terbesar di kota saya, (Surabaya, di mana lagi?) tanpa berpikir panjang saya mengambilnya dan memasukkan di kantong belanjaan. Sebelumnya saya tidak tahu menahu tentang blog Surabaya Punya Cerita, dan bahwa artikel-artikel di dalam blog tersebut dituangkan dalam kertas dan tinta dalam buku ini .

Kalau boleh saya jelaskan seperti ini, Surabaya Punya Cerita berisi potongan-potongan sejarah tentang Surabaya yang kebanyakan tak terpublikasikan dan bahkan sudah terlupakan. Bentuknya macam-macam, mulai dari tradisi, tempat bersejarah, tokoh kenamaan, sampai musik dan film. Namun jika buku sejarah biasanya melulu berisi fakta, Surabaya Punya Cerita menyodorkan sejarah melalui cerita-cerita nostalgia.

Melalui beberapa cerita tentang tempat bersejarah di Surabaya, pembaca diajak mengingat kembali, atau disodorkan informasi baru jika sebelumnya tidak tahu, bahwa tempat-tempat tersebut ada sejarahnya. Jalan Baliwerti hari ini mungkin dikenal sebagai sentra pertokoan keramik, namun pada tanggal 10 November 1977, Hari Pahlawan, Baliwerti dipenuhi sekitar tiga ribu pemuda yang melakukan long march menuju Tugu Pahlawan sebagai bentuk protes terhadap degradasi moral dan ketidakadilan sosial yang sedang terjadi. Banyak yang lupa bahwa di dalam Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan, tersimpan makam salah satu pahlawan nasional, Dr. Soetomo. Orang Surabaya pasti tahu bahwa ada areal makam Belanda di Pemakaman Kembang Kuning, tapi mungkin tidak tahu siapa saja tokoh-tokoh penting yang dimakamkan disana. Beberapa diantaranya adalah Alfred Emille Rambaldo, perintis perjalanan udara pertama yang menemukan dan mengembangkan balon udara bermesin tahun 1908-1911; Everdina Bruring, istri dari Dr. Soetomo; dan G. Cosman Citroen yang adalah arsitek Balai Kota Surabaya dan Rumah Sakit Darmo.

Berbagai karya seni dan musik yang berjaya di Surabaya pada jamannya, juga disuguhkan dalam buku ini. Misalnya film nasional berjudul Soerabaia 45 yang rilis pada tahun 1990, yang melibatkan sejumlah insan seni yang tidak bisa dianggap main-main. Grup lawak Srimulat memulai sejarahnya dengan mementaskan dagelan Mataram di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada penghujung tahun 1960an, pada waktu itu masih menggunakan nama Gema Malam Srimulat. Ada The Tielman Brothers yang konon disebut-sebut sebagai salah satu grup band tertua di dunia yang memainkan musik rock n roll sebelum The Beatles, The Rolling Stones, bahkan Led Zeppelin. Band yang dipelopori Andy Tielman ini memadukan genre rock n roll dengan musik khas Indonesia seperti gamelan atau keroncong, hingga akhirnya genre musik ini disebut genre Indorock atau “Indonesian Rock N Roll”. Dari dunia seni rupa, Surabaya memiliki Tedja Suminar, pelukis peranakan Tionghoa yang dikenal njawani. Relief di stadion Gelora 10 November adalah hasil desain sketsa dari pelukis yang menjadikan Surabaya dan Bali sebagai sumber inspirasi utamanya itu. Dan, bukan hanya satu, namun tiga cerita disajikan mengenai Gombloh, musisi asal Kampung Embong Malang Surabaya yang paling dikenal dengan lagu “Di Radio” yang aslinya berjudul “Kugadaikan Cintaku”. Tak ketinggalan cerita tentang dedengkot musik jazz, Bubi Chen.

Masih banyak cerita lain yang tersimpan dalam buku yang relatif tipis ini (204 halaman). Kekurangan buku ini terletak pada editing-nya, yang jika diperhalus lagi bisa lebih enak dibaca, dan banyak foto hitam putih yang ditampilkan beresolusi rendah. Pada awalnya saya menganggap harganya agak kemahalan untuk buku setebal 204 halaman, namun pada akhirnya isi dari buku ini membayar setiap rupiah yang saya keluarkan untuk membelinya. Sayangnya, eksemplar yang saya beli cutting-nya kurang rapi, halaman-halaman buku melampaui batas sampul sekitar 2 mm.

Saya menamatkan buku ini hanya sehari sebelum HUT Surabaya ke-722, 31 Mei lalu, namun baru bisa menuliskan reviewnya sekarang. :D Kalau pada awalnya saya mengira buku ini adalah kumpulan cerpen, ternyata setelah menamatkannya buku ini melampaui ekspektasi saya. Sekarang, sedikit banyak saya jadi tahu potongan-potongan sejarah yang terlupakan tentang kota tercinta. Buku ini saya rekomendasikan bagi setiap warga Surabaya, mereka yang punya kenangan dan kesan khusus terhadap Surabaya, juga mereka yang tertarik dengan Surabaya. Dunia perlu tahu, bahwa sejarah dan sisik melik Surabaya penuh warna, dan tidak melulu berkaitan dengan pertempuran 10 November ataupun cerita rakyat Sura dan Baya. Tak sabar menanti Vol. 2 terbit!

Surabaya, kota tak terlupakan

Surabaya, kota tak terlupakan

Telusuri lebih banyak tentang Surabaya Punya Cerita di: Blog | Facebook | Twitter

Detail buku:

Surabaya Punya Cerita Vol. 1, oleh Dhahana Adi
204 halaman, diterbitkan 2014 oleh Indie Book Corner
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Two New (But Old) Jane Eyres

Sorry for the long absence! It’s been so difficult for me to compose new blog posts lately due to some things going on in my life—things I need to take care of, AND my laptop had broken down.

For the time being, let me show you my two new (but old) Jane Eyres. Needless to say that I absolutely love Jane Eyre, ever since I read it the first time in Indonesian translation (read the review in Bahasa here) and last year I managed to read it in the original language (read the short review in the bottom of this post).

So, after getting inspired by this blogger’s awesome collection of Jane Eyres, I decided to start collecting “collectible” editions of Jane Eyre. I don’t intend to gather as many editions as possible, though, I prefer to collect illustrated editions.

This is Jane Eyre: Portland House Illustrated, 1988 edition. This book is illustrated by Monro S. Orr.

Jpeg

I was rather disappointed with this edition; because it only has 8 illustrations from the 16 illustrations I saw on the Jane Eyre Illustrated website, and it’s an abriged version. However, it still makes a lovely addition in my collection.

And this is another gem I am lucky to have: a 1943 edition of Jane Eyre with wood engravings by Fritz Eichenberg. Have you ever heard of a movie titled Definitely, Maybe (2008)? Well, this edition also ‘starred’ in the movie, alongside Ryan Reynolds, Isla Fisher, Rachel Weisz and Elizabeth Banks. And also one of the main characters, April, had a collection of Jane Eyres, which was awesome. :)

Watch this clip if you’re curious.

Look how intricate and awesome the wood engravings are:

In the markets you can find an edition of Wuthering Heights in the similar style (also with wood engravings by Fritz Eichenberg, only creepier).

It feels awesome to hold in my hands a book that’s more than 40 years older than myself! ;)

Thoughts Corner: Perjalanan Menemukan Sastra Indonesia dalam Film dan TV

Saya ingin mengakui dua hal. Yang pertama, saya telah mengabaikan blog ini selama beberapa bulan (I’m so sorry! :( ). Salah satu alasannya karena saya berkonsentrasi mengejar impian melanjutkan kuliah di luar negeri dengan mendaftar beasiswa LPDP. Dan ternyata saya gagal, saya belum diperbolehkan oleh Tuhan untuk menggapai impian yang satu ini. Mungkinkah saya gagal karena saya tidak bisa menyebutkan perbedaan antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen yang ditanyakan salah satu pewawancara? Bagi teman-teman yang berasal dari background akuntansi hal ini mungkin kedengaran sangat konyol, apa mungkin bekerja selama kurang lebih 6 tahun tanpa menyentuh textbooks sama sekali membuat saya melempem ketika disodori pertanyaan macam ini. Atau jangan-jangan saya salah jurusan? :|

Yah, bagaimanapun, fase tersebut sudah berlalu, dan saya tidak bisa bilang saya menyesal sudah mencoba walaupun akhirnya gagal. Well, if you never try, you’ll never know, right? Ada satu tahap seleksi yang dilakukan LPDP yang bernama Leaderless Group Discussion. Pada tahap ini pelamar beasiswa dikelompokkan dengan 5-6 orang pelamar lain dan diberi artikel untuk didiskusikan bersama. Saya dan teman-teman sekelompok mendapat artikel dengan tema Budaya Asing di Indonesia. Kami diperhadapkan pada masalah budaya asing yang merajai musik, film, TV dan buku/komik di Indonesia (buku/sastra tidak disebut dalam artikel,tapi saya sempat menyinggungnya sedikit dalam diskusi) dan bagaimana caranya supaya budaya Indonesia bisa menjadi raja di negeri sendiri.

Nah, hal inilah yang melatarbelakangi pengakuan saya yang kedua. Saya sendiri sangat kurang mencintai produk-produk budaya dalam negeri (that is: buku & komik, musik, film, dan tayangan TV Indonesia). Saya bisa saja menggunakan alasan “selera kan tidak bisa dipaksa” tapi setelah melalui tahap LGD bersama teman-teman pelamar beasiswa LPDP, saya menyadari bahwa rasa cinta itu harus dimulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin mengajak orang lain mencintai budaya negeri kalau diri sendiri tidak melakukannya lebih dahulu?

Pertama, buku. Tanggal 17 Mei yang lalu kita merayakan Hari Buku Nasional, di mana orang berlomba-lomba memamerkan koleksi buku lokal yang mereka miliki. Saya termasuk di antara mereka, tanpa malu mengepos koleksi buku lokal saya ke Facebook, Path, dan Instagram walaupun jumlahnya cuma SEBELAS biji. Saya diam-diam membuat resolusi pribadi untuk mulai giat membaca buku lokal walaupun mungkin terbatas dalam genre tertentu (beberapa teman pasti tahu saya sangat pemilih soal genre buku) dan dengan progress yang sangat lambat (orang Jawa bilang alon-alon asal kelakon). Ada dua buku yang ingin saya habiskan dalam tahun ini, yaitu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan Amba karya Laksmi Pamuntjak. Saya bertekad bahwa dua buku tersebut harus pindah dari rak “timbunan” ke rak “sudah dibaca” tahun ini juga! Wish me luck!

Kedua, film. Kamu akan tertawa kalau tahu film Indonesia apa yang terakhir saya tonton di bioskop. Film ini dibintangi oleh Shandy Aulia dan Samuel Rizal dan bersetting di tempat berjuluk City of Light. Got it? :D Namun, melihat bahwa belakangan ini film biopic mulai menjamur, maka rasanya ini start spot yang tepat bagi saya untuk memulai (lagi) nonton film-film buatan anak bangsa. Saya juga tertarik untuk nonton film yang diadaptasi dari buku, tapi tentunya setelah saya membaca bukunya dulu, hehehe. Untuk permulaan, saya mencatat Sang Penari (adaptasi Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari) dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (adaptasi karya Hamka) untuk saya tonton. Mungkin kamu bisa memberi saya rekomendasi film yang lain?

Ketiga, TV. Inilah yang paling susah bagi saya. Saya jarang sekali nonton TV. Mohon maaf, tapi bagi saya kebanyakan tayangan TV (baca: sinetron) Indonesia itu sampah. Dalam LGD, saya sempat melontarkan pendapat bahwa produsen film dan serial TV di Indonesia juga harus memperbaiki kualitas karya-karya seni mereka sehingga makin banyak orang (terutama anak muda) lebih memilih nonton film dan serial TV yang asli Indonesia, ketimbang, katakanlah, produk Hollywood, Bollywood, dan Korea. Lalu terpikirkan oleh saya, mengapa stasiun TV di Indonesia tidak mengikuti langkah BBC dan beberapa stasiun TV mancanegara lainnya, yang terus “menghidupkan kembali” karya sastra melalui adaptasi serial TV? Saya secara khusus menyebutkan BBC karena stasiun tv ini yang menurut saya paling produktif dalam menghasilkan adaptasi dari karya sastra (klasik), bahkan yang tidak terlalu populer seperti Little Dorrit karya Charles Dickens dan Cranford karya Elizabeth Gaskell. Negara Inggris memberi tempat yang sangat spesial untuk karya-karya sastra yang berasal dari putra-putri negaranya.

Ini beberapa “sinetron” produksi BBC yang diangkat dari karya sastra klasik selama 5 tahun terakhir:

Sumber: http://ladyandtherose.com/period-drama-tv-series/

Dan berikut ini beberapa film adaptasi karya sastra klasik yang rilis tahun 2015:

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah karya sastra klasik Indonesia masih dibaca sekarang ini? Atau jangan-jangan malah sudah dilupakan? Saya masih nol dalam hal membaca karya sastra klasik Indonesia, namun saya ingin memulai dan saya ingin supaya karya-karya sastra lokal diingat dan dicintai oleh Indonesia. Mungkinkah dengan “memberi nyawa” pada karya sastra klasik Indonesia melalui adaptasi TV/film, karya sastra tersebut bisa kembali populer? Para insan film dan TV di Indonesia, apakah suatu saat nanti kalian akan menjawab pertanyaan ini?

Monggo berkomentar, terutama bagi teman-teman yang sudah membaca lebih banyak karya sastra klasik Indonesia daripada saya ;)

Winner Announcement – Surgabukuku Special Giveaway

special GA buttonHai, yang ditunggu-tunggu tiba juga nih yaitu pengumuman pemenang Surgabukuku Special Giveaway! ;) Maaf kalau saya tiba-tiba memajukan pengumuman pemenangnya, yang harusnya tanggal 31 Maret menjadi hari ini tanggal 30 Maret, tapi lebih enak begini kan daripada saya berlama-lama bikin teman-teman deg-degan? Hehehe.

Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih untuk semua pembaca dan followers yang sudah memberikan support untuk Surgabukuku selama ini, dan khususnya untuk 95 orang yang sudah mau meluangkan waktunya kasih komentar di post review dan ikutan giveaway ini. Maaf saya nggak bisa membalas komen kalian satu persatu, mohon dimaklumi yaaa..

Nah, langsung saja, ini dia 2 orang yang beruntung memenangkan giveaway kali ini:

Winner #1 : Rina Eko Wati

special GA winner 1

Winner #2 : Ipeh Alena

(pemenang yang memilih buku genre Klasik)

special GA winner 2

Selamat! Saya akan menghubungi kalian secara langsung via e-mail, dan wajib dibalas paling lambat hari Rabu, 1 April 2015 pukul 12.00 WIB, kalau tidak maka hadiah akan dialihkan ke pemenang cadangan yang sudah saya pilih.

Sampai jumpa di post selanjutnya, Ciao!

Movies Based on Books I Want to Watch in 2015

There are many wonderful adaptations from books out there (along with some not-so-wonderful ones) and I am grateful that the world’s film industry keeps producing new ones, and that these past few years movies based on books get the appreciation they deserve. (Did you notice that Oscar nominations these past few years have been positively dominated by movies based on books?)

So here are some movies based on books I really want to watch (trailer featured if already available). You will see many period dramas here, because I read mostly classics and historical fiction books, so naturally I’m drawn to period dramas.

Cinderella. A live-action take of the classic fairy tale. Cast: Lily James, Richard Madden, Cate Blanchett, and Helena Bonham Carter (I know. Impressive cast. I hope it’s better than Into The Woods.)

Testament of Youth. Set on the First World War, based on Vera Brittain’s memoir. Cast: Alicia Vikander, Kit Harington, Miranda Richardson and Taron Egerton.

Suite Française. Based on the unfinished novel by Irene Nemirovsky. Cast: Michelle Williams, Kristin Scott Thomas and Matthias Schoenaerts.

Far from the Madding Crowd. Based on Thomas Hardy’s classic romance. Cast: Carey Mulligan, Matthias Schoenaerts, Tom Sturridge, and Michael Sheen. This movie is by far the one I want most to watch, as soon as it premieres.

Madame Bovary. Based on Gustave Flaubert’s novel. Cast: Mia Wasikowska, Ezra Miller, Laura Carmichael.

Macbeth. An adaptation of the Shakespeare play. Cast: Michael Fassbender, Marion Cotillard, David Thewlis, Sean Harris and Elizabeth Debicki.

Mr. Holmes. From the novel A Slight Trick of the Mind by Mitch Cullin. Stars Ian McKellen as the aged sleuth.

I owe this post by The Lady and the Rose. Thanks!

Do you have movie recommendations for me? Especially period drama movies from the non-fiction section? Do tell on the comments!

Suite Française – Irène Némirovsky

suite francaiseDisebut-sebut sebagai proyek paling ambisius dari penulis Prancis kelahiran Ukraina Irène Némirovsky, Suite Française berusaha menggambarkan penderitaan masyarakat Prancis—semendetail mungkin –pada sebuah kurun waktu dari Perang Dunia II. Lebih lanjut, Suite Française membawa sederetan karakter yang mewakili masyarakat Prancis dari berbagai kelas sosial.

Badai di Bulan Juni

Bagian pertama novel ini diberi judul “Badai di Bulan Juni”, mengambil waktu mulai dari bulan Juni 1940 saat tentara Jerman memulai pendudukan atas Prancis . Berikut ini adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya:

Yang pertama ada keluarga Péricand, keluarga kaya dan terhormat. Philippe, anak lelaki tertua pasangan Péricand adalah seorang pendeta, adiknya Hubert remaja delapan belas tahun yang masih kekanak-kanakan, dan tiga adik mereka, Bernard, Jacqueline, dan Emmanuel masih kecil-kecil. Kakek Péricand , sang ahli waris keluarga Maltête dari Lyon, sudah cacat dan duduk di kursi roda. Dengan kekayaan yang mereka miliki, keluarga Péricand selalu menyisihkan sebagian untuk amal sesuai dengan kewajiban penganut Kristen yang baik, demikian kata Madame Péricand.

Kemudian ada penulis Gabriel Corte, kaya dan terkenal, namun sangat sombong. Corte punya banyak wanita simpanan, namun hanya satu yang “resmi”, yaitu Florence. Mewakili rakyat kelas menengah, ada pasangan Michaud yang sederhana dan hidup dengan harmonis. Maurice sang suami bekerja sebagai karyawan bagian keuangan dan Jeanne sang istri sekretaris di bank yang dipimpin Monsieur Corbin. Pasangan Michaud memiliki seorang putra, Jean-Marie, yang ikut berperang membela Prancis. Dan juga ada Charles Langelet, seorang pria kaya kolektor barang-barang indah, yang dikenal sangat kikir.

Baik keluarga Péricand, Gabriel Corte dan Florence, pasangan Michaud, Monsieur Corbin dan wanita simpanannya, dan juga Charles Langelet mempunyai misi yang sama: pergi sejauh mungkin dari Paris karena kota itu akan diduduki tentara Jerman. Dari sini pembaca diajak menelusuri apa saja yang dialami para tokoh saat mereka pergi meninggalkan Paris. Yang kaya berusaha membawa sebanyak mungkin harta benda dan makanan yang mereka miliki, dan membawa mobil, tentu saja, walaupun persediaan bensin menipis. Sementara itu, pasangan Michaud yang tidak mendapat tumpangan di mobil Monsieur Corbin terpaksa pergi berjalan kaki, menyeret koper-koper berat dalam cuaca bulan Juni yang panas.

Mereka berusaha pergi dari Paris ke tempat tujuan masing-masing, di tengah ancaman bom dan tembakan dari pesawat-pesawat Jerman, belum lagi ancaman perampokan dari sesama warga sipil. Segalanya kacau balau. Dihadapkan dengan situasi yang sulit, barulah terungkap sifat asli masing-masing karakter. Madame Péricand yang selalu mengajari anak-anaknya untuk menolong orang lain, malah marah-marah ketika melihat dua anaknya membagi-bagikan permen dan cokelat dengan orang-orang di sekitar mereka. Maurice dan Jeanne Michaud menanggung beban mereka dengan cukup sabar, namun Jeanne dihantui ketakutan bahwa putra tercintanya tak selamat. Gabriel Corte dengan angkuh menolak kamar hotel yang baginya kurang nyaman, padahal ada sepuluh keluarga pengungsi lainnya yang memohon-mohon supaya diberikan kamar itu. Charles Langelet yang kehabisan bensin di tengah perjalanan tega mencuri mobil sepasang orang muda. Sementara itu Jean-Marie yang terluka, ditemukan dan dirawat oleh keluarga petani yang memiliki dua orang putri, yang pertama putri kandung dan yang satunya lagi putri angkat: Cécile dan Madeleine.

Dolce

Bagian kedua yang berjudul “Dolce” menceritakan bulan-bulan pertama pendudukan Jerman di Prancis. Ada beberapa karakter baru, antara lain:

Keluarga Angellier dari kaum borjuis, yang terdiri dari Madame Angellier dan menantu perempuannya, Lucile. Gaston, anak lelaki Madame Angellier dan suami Lucile, ikut berperang dan sedang ditawan oleh Jerman. Madame Angellier seorang wanita yang otoriter dan dominan, sedangkan Lucile yang cantik penyendiri dan kutu buku. Kedua wanita yang bertolak belakang ini tinggal di sebuah rumah indah di Bussy, desa yang pada saat itu diduduki tentara Jerman. Seperti di banyak rumah lainnya, mereka harus menerima seorang perwira Jerman untuk tinggal dalam rumah mereka.

Perwira Jerman yang tinggal di rumah Angellier bernama Bruno von Falk, pemuda tampan dengan mata besar dan rambut pirang. Walau pada mulanya Lucile bersikap kaku terhadap “musuh dalam selimut” ini, namun keramahan Bruno membuatnya luluh dan akhirnya mereka pun berteman. Hubungan pertemanan ini lambat laun berubah menjadi sesuatu yang lain… apalagi karena Lucile tak benar-benar mencintai suaminya yang serong. Hal ini tak luput dari pengamatan Madame Angellier yang merasa Lucile telah mengkhianati putranya.

Vicomte dan Vicomtesse de Montmort adalah sepasang bangsawan yang hipokrit. Sang Vicomtesse berseru di depan murid-murid sekolah supaya mereka “bermurah hati” dan “tidak memikirkan diri sendiri”, sementara ia sendiri memakai sepatu seharga delapan ratus lima puluh franc. Ada kebencian turun temurun antara keluarga Sabarie dan keluarga Montmort.

Keluarga Sabarie—keluarga petani yang merawat Jean-Marie Michaud—kembali muncul dalam bagian kedua novel ini. Madeleine sudah menikah dengan Benoît, putra keluarga Sabarie, meskipun ia masih mencintai Jean-Marie. Karena pertikaian dengan perwira Jerman yang tinggal di rumah mereka (Benoît cemburu buta melihat perwira itu menggoda istrinya), Benoît melarikan diri dan akhirnya bersembunyi di rumah keluarga Angellier. Madame Angellier yang notabene kelasnya jauh diatas Benoît, menerimanya demi membantu sesama orang Prancis.

Thoughts:

Jika pada Badai di Bulan Juni cerita mengalir lebih cepat dan dengan tone yang gelap, dalam Dolce cerita mengalir dengan lebih lambat dan tidak segelap bagian pertama, karena dalam Dolce pembaca melihat para tentara Jerman membangun hubungan baik dengan warga desa (entah tulus atau tidak), sampai-sampai warga desa menyesali saat kepergian mereka, dengan alasan jika mereka diduduki tentara lain lagi, belum tentu sikap tentara baru itu akan sebaik tentara Jerman yang pernah menduduki desa mereka.

Dalam Badai di Bulan Juni diperlihatkan bagaimana sebagian besar karakter bersikap buruk dan moralnya merosot, sementara kebaikan ditonjolkan oleh pasangan Michaud yang meski menderita, namun mereka tetap tulus, sabar dan nrimo. Hubungan yang harmonis antara pasangan suami istri Michaud cukup dapat menghangatkan hati pembaca, apalagi ketika mereka dihajar dengan hadiah yang manis pada akhir bagian pertama.

Hal paling menarik dalam Dolce mungkin adalah hubungan yang berkembang antara Lucile dan Bruno von Falk. Lucile yang sudah muak dengan suasana perang menemukan seorang teman dalam diri Bruno, dan memandangnya sepenuhnya sebagai seorang manusia yang bisa diajak berbicara dan berbagi; seragam hijau tentara Jerman yang dipakai Bruno diabaikan oleh mata Lucile.

“Tentu dalam perang,” katanya kepada dirinya sendiri, “ada tahanan perang, janda, penderitaan, kelaparan, pendudukan. Lalu, kenapa? Aku tak pernah melakukan hal yang salah. Dia seorang teman yang patut dihargai, buku, musik, percakapan-percakapan panjang kami, berjalan-jalan bersama di Hutan Maie… Yang menjadikan hal ini sebagai hal yang tak patut dilakukan adalah perang ini, penderitaan universal ini. Tetapi ia tak lebih bertanggung jawab daripada aku! Ini bukan salah kami. Kalau saja mereka membiarkan kami… Kalau saja mereka membiarkan saja kami!”

Pada akhirnya Lucile memutuskan bahwa meski perang yang kejam mengubah banyak hal, namun ia ingin kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, ia punya hak menentukan nasibnya sendiri. Ia memutuskan bahwa ia tak peduli bahwa negaranya dan negara si perwira saling berperang, karena kenyataannya Lucile dan Bruno bersahabat. Semua itu tidak salah… yang menjadikan salah adalah adanya perang yang memborbardir kedamaian antar manusia.

Mungkin, daya tarik paling utama dari Suite Française adalah fakta bahwa novel ini tidak selesai. Sang penulis, dalam catatan-catatan pribadi yang dilampirkan dalam apendiks, mengungkapkan rencananya untuk menulis novel dalam lima volume dengan total sekitar 1.600 halaman. Melalui apendiks kita tahu bahwa Irène Némirovsky tidak main-main dalam menulis, ia punya pemahaman memadai tentang keadaan politik dan sosial Prancis sebagai modal untuk menulis buku mahakaryanya. Walaupun tahu ajalnya sudah mendekat, ia tidak berhenti menulis. Dan penulisannya memang cantik meskipun terjemahannya (atau editannya, atau keduanya) kurang mampu mempertahankan kecantikan tulisan aslinya. Pada banyak bagian saya menemukan terjemahan yang aneh dan editan yang berantakan.

Kisah tentang sang penulis sendiri juga tak kalah menariknya (baca Prakata pada apendiks): beliau adalah seorang Yahudi yang ditangkap Jerman bulan Juli 1942 dan kelak tewas di kamar gas (dengan demikian meninggalkan Suite Française tidak terselesaikan). Diceritakan juga bagaimana manuskrip Suite Française selamat berkat Denise, putri Némirovsky dan baru dipublikasikan enam puluh tahun kemudian. Seandainya novel ini selesai, bukan tidak mungkin Suite Française bisa menyaingi kebesaran War and Peace karya Leo Tolstoy. Namun takdir sudah berkata lain, dan kita harus puas dengan dua bagian novel yang memberi kita sekilas pemahaman tentang perasaan dan penderitaan rakyat sipil Prancis saat Perang Dunia II berkecamuk, khususnya pada awal pendudukan Jerman di Prancis.


suite_francaise_12sht_f-page-001

Suite Française sudah difilmkan dengan bintang Michelle Williams sebagai Lucile Angellier, Matthias Schoenaerts sebagai Bruno von Falk dan Kristin Scott Thomas sebagai Madame Angellier. Bagaimana film ini mengembangkan cerita dari novelnya yang tidak selesai? Kita lihat saja nanti…

2nd review for Project Baca Buku Cetak | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Read Big Challenge 2015

Detail buku:

Suite Française, oleh Irène Némirovsky
642 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Qanita (Mizan Group) (pertama kali diterbitkan 2004)
My rating: ♥ ♥ ♥

Surgabukuku Special Giveaway!

special GA button

Hullo!

Sesuai judul postnya, giveaway kali ini memang spesial. Karena ada beberapa hal yang saya rayakan:

  1. 500+ likes di Facebook Page Surgabukuku (sekarang ini malah sudah 600 lebih, gak tahu kenapa, saya gak pake promote page atau semacamnya. Untuk likers di Facebook akan ada giveaway khusus yang diluncurkan besok.)
  2. URL baru http://surgabukuku.com. Beberapa teman-teman BBI pasti sudah pada tahu mengapa saya tiba-tiba mendomainkan blog. Tapi sebenarnya sih niat mendomainkan sudah lama ada, hanya saja sebelumnya saya tunda-tunda terus karena frekuensi bloggingnya juga masih suka mampet XD. Nah, karena ada sesuatu hal yang “memaksa” saya mendomainkan blog, akhirnya http://surgabukuku.wordpress.com pun dengan sukses berubah jadi http://surgabukuku.com per 23 Februari 2015 kemarin. Semoga dengan URL baru ini saya makin rajin blogging, ya! ;) )
  3. Kemarin saya mendapat job penerjemahan buku untuk pertama kalinya. Walaupun saya tidak akan bekerja sendirian untuk menerjemahkan 1 buku itu, but still, I’m grateful!
  4. Hari lahir saya yang jatuh pada… (uhuk) well, sebentar lagi. Gak perlu disebutin lah ya ultah ke berapa XD

Dalam Special Giveaway ini saya akan ngasih hadiah untuk 3 (tiga) orang pemenang: 2 (dua) orang pemenang diambil dari GA di blog dan 1 (satu) orang lagi dari GA di Facebook Page.

2 (dua) orang pemenang Giveaway di blog masing-masing boleh memilih salah satu dari pilihan hadiah di bawah ini:

  • 1 (satu) buah buku pilihan sendiri senilai max USD 10 dari Bookdepository.com
  • Gift certificate senilai USD 10 dari Betterworldbooks.com
  • Max 2 (dua) buah buku dari toko buku online lokal senilai max Rp 100.000 (seratus ribu rupiah). Toko buku online lokal misalnya bukabuku.com, periplus.com, opentrolley.co.id, tokobuku.getscoop.com, pengenbuku.net, dan sebagainya. Ongkir akan saya tanggung.

Simak persyaratan ikut giveaway berikut ini:

  1. [WAJIB] Tinggalkan komentar di salah satu post review buku di blog Surgabukuku (bukan di post ini). Komentar harus relevan dengan isi review dan buku yang bersangkutan, jadi bukan sekadar “bukunya keren” atau “ih, covernya lucu” dan semacamnya. Periode komentar: 2 – 28 Maret 2015, jadi komentar lama tidak dihitung :). Tip: kamu bisa browse semua post review di blog Surgabukuku melalui Page A-Z Index Reviews atau Tag Book Reviews.
  2. [WAJIB] Mengisi form Google Docs di bawah ini. Salah satu isian wajib adalah buku yang dipilih jika menang giveaway ini (isikan judul – pengarang, atau link buku tersebut di toko buku online). Judul buku yang dipilih harus yang masih ready stock, jika pemenang memilih buku yang sudah out-of-print, maka saya akan memilihkan buku yang ready stock sesuai ketentuan harga hadiah. Perlu diperhatikan bahwa pemenang akan dipilih secara random, tapi satu dari dua orang pemenang akan saya pilih dari yang memilih buku dengan genre Klasik.
  3. [TIDAK WAJIB] Tinggalkan komentar di post ini. Isi komentar bebas.
  4. [TIDAK WAJIB] Share giveaway ini di Twitter/Facebook. Kamu hanya perlu share sekali saja. Copy-paste link sharenya di form Google Docs.

Persyaratan umum:

  1. Peserta giveaway berdomisili di Indonesia.
  2. Satu entri untuk satu peserta. Jadi semua orang memiliki kesempatan menang yang sama. Kalau mau komen di lebih dari 1 post tidak dilarang, tapi untuk giveaway ini hanya 1 komentar per orang yang dihitung ya.
  3. Giveaway dibuka mulai tanggal 2 Maret 2015 sampai tanggal 28 Maret 2015 pukul 23.59 WIB.
  4. Pemenang giveaway akan diumumkan di blog ini tanggal 31 Maret 2015 pukul 09.00 WIB. Saya akan menghubungi pemenang secara pribadi melalui alamat e-mail, dan yang bersangkutan wajib membalas dalam waktu 2×24 jam, kalau tidak akan dipilih pemenang yang lain.
  5. Punya pertanyaan? Hubungi saya di Twitter @melmarian.

That’s it! May the odds be ever in your favor! #salamtigajari ;)

Little Women – Louisa May Alcott

little women[Review in Bahasa Indonesia and English]

Adalah empat orang gadis sederhana keluarga March yang tinggal di Concord, Massachusetts: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka tinggal bersama ibu terkasih yang mereka panggil dengan panggilan sayang Marmee, sementara ayah mereka sedang pergi berjuang dalam perang. Buku ini pada umumnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para gadis March, tentang persahabatan, persaudaraan (sisterhood), pergumulan mereka tentang kemiskinan, sedikit petualangan, harapan, dan juga cinta. Dan yang tak kalah penting, di dalam buku ini diceritakan bagaimana Meg, Jo, Beth, dan Amy memetik pelajaran hidup tentang rasa syukur, pengampunan, jodoh dan masa depan, bekerja dengan rajin, kebahagiaan, meraih impian, dan banyak hal lain. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu ambil dari buku ini.

Karakter keempat tokoh utama sangat beragam: Meg cantik dan riang, namun kadang terlalu menginginkan hal-hal yang mahal dan indah; Jo seorang kutubuku tomboi yang doyan menulis dan bermain peran; Beth tulus dan lemah lembut, namun minder dan cenderung rapuh; dan juga ada Amy, si bungsu yang berbakat seni, namun kadang manja dan tinggi hati.

Salah satu hal favorit saya tentang buku ini adalah tentang persahabatan keempat gadis March dengan Laurie (nama aslinya Theodore Laurence), yang adalah cucu Pak Tua Laurence yang tinggal di sebelah rumah keluarga March. Laurie seorang pemuda yang moody, gampang bosan dan lumayan bengal, namun sejak bersahabat dengan keempat gadis March, dia tidak lagi mudah merasa bosan. Kehadiran Laurie juga memberi warna tersendiri dalam cerita, apalagi yang memerankannya di film adalah Christian Bale… (Oops. Maaf, salah fokus) :P

Lalu ada karakter Marmee yang sepertinya menjadi sumber segala kebijakan dalam buku ini. Sampai-sampai saya merasa karakter ini agak terlalu sempurna, sampai diungkapkan bahwa Marmee sendiri mengakui salah satu kelemahannya, dan bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan itu. Salah satu kutipan favorit saya yang berasal dari Marmee:

“Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu.” – hal. 159

She is the best mother character ever. You rock, Marmee!

Baiklah, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta dengan (hampir) semua karakter dalam buku ini. Semuanya terasa begitu hidup dan nyata, seperti seorang teman lama yang menyambut saya dengan hangat dan akrab.

Terlepas dari sedikit rasa tidak puas saya akan endingnya, secara keseluruhan membaca Little Women sangat menyenangkan. Feel yang saya dapat saat membacanya mirip seperti saat membaca A Tree Grows in Brooklyn; kedua buku ini tidak memiliki cerita yang “wah” namun ternyata enak dinikmati dalam segala kesederhanaannya. Rasanya seperti membaca buku harian yang ditulis selama setahun (dari Natal ke Natal selanjutnya), namun dengan POV orang ketiga. Semoga saja nanti saat membaca Good Wives (sekuel Little Women), saya bisa merasa puas dengan endingnya. Tapi saya tidak berharap banyak sih, karena konon Tante Louisa bukan tipe penulis yang suka menyenangkan hati pembacanya. Ia lebih memilih membengkokkan plot daripada menulis seturut keinginan pembaca. (Yes, she is that badass.)

Kesimpulan: Bacalah. Buku. Ini.

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca bareng BBI Januari 2015: Buku Secret Santa

28th review for The Classics Club Project | 1st review for Children’s Literature Reading Project | 1st review for Project Baca Buku Cetak | 1st review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Lucky no. 15 Reading Challenge (Cover Lust)


Review in English:

Little Women tells us about the four March girls: Meg, Jo, Beth, and Amy. They lived modestly in Concord, Massachusetts with their beloved mother (“Marmee”) while their father was away in war. This book is mainly about the March girls’ daily life, friendship, sisterhood, their struggle through poverty, and also about hope and love. It gets adventurous in some parts, and in many parts we witness the March girls learn life lessons: gratitude, forgiveness, marriage and future, hard work, happiness, and accomplishing dreams, among other many things. Yes, you could learn so much from this book.

Meet a parade of colorful characters: the beautiful and sometimes superficial Meg, the independent tomboy and bookworm Jo, the delicate pianist Beth, and the artistically talented but snobbish Amy. There is also Mrs. March or Marmee, who at first I thought too good to be true, until it was revealed that Marmee herself confessed about one of her own faults, along with her way to deal with it. Marmee is a picture of a perfect mother: loving, hard working and full of wisdom, not to mention a wonderful storyteller. Last but not least there is Laurie, the boy next door who was eventually bound in friendship with the March girls. Laurie is described like the typical teenage boy: moody, gets bored easily, sometimes naughty; yet his character brought more color to the story. Okay, I admit that I fell in love with (almost) all characters in this story. They all feel so alive and real, like an old friend who greets me with such warmth and intimacy.

Regardless feeling a little unsatisfied of its ending, reading Little Women is overall a pleasing experience. Little Women and A Tree Grows in Brooklyn gave me a similar feeling when reading them; both of these books do not give us an intricate story, but they are enjoyable in their simplicity. It felt like reading a diary for a full year (from one Christmas to the next), only in third POV. I can’t wait to read Good Wives!

Final words: Read. This. Book. Just. Read. It.

Book details:

Little Women (Gadis-gadis March), by Louisa May Alcott

376 pages, published 2014 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1868)

My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


A Note to My Secret Santa:

Dear Santa yang mengaku bernama Louisa M.A.,

Terima kasih sudah memberikan buku ini. Terima kasih sudah dikangenin. Dan ternyata, memang membaca buku yang kamu hadiahkan ini terasa seperti bertemu kawan lama. Kangen. Sama seperti rasa kangen saya dalam menulis review. Well, here I am, Santa. :)

Nah, sekarang saya mau mencoba menebak identitasmu ya.

Santa bilang kalau kita pernah bertemu saat Pangeran nan bahagia merayakan ulang tahun pertamanya, saat itu aku membawa hadiah sebuah jaring emas untuk pangeran.

Kemudian aku pernah bercerita kepada Santa tentang kisahku ketika berada di dua kota.

Santa pernah bercerita kepadaku tentang seorang ayah berkaki panjang. Aku bilang cerita itu sangat menarik dan aku ingin mengabadikannya.

*(Riddle lengkap bisa dilihat di post ini)

Baiklah, berarti Santa dan saya sudah membaca beberapa buku yang sama: Pangeran Bahagia, A Golden Web, Kisah Dua Kota, dan Daddy Long-Legs. Wah, Santa tahu benar buku-buku yang saya suka ya :). Karena 3 dari 4 judul buku diatas buku klasik, saya tinggal ngubek-ngubek Index Review Baca Klasik yang saya kumpulkan dengan susah payah (baru kali ini saya merasakan kegunaannya secara langsung :D). Hey, ada satu clue lagi yaitu kertas yang digunakan Santa untuk riddle! Setelah mencocokkan satu clue dengan yang lainnya, hasil deduksi saya meruncing pada….

Pauline Destinugrainy alias Mbak Desty

(https://destybacabuku.wordpress.com/)

Bener, kan?Ada jejak saya di empat review buku yang saya sebutkan diatas di blog Mbak Desty. Dan itu, gambar bunga di kertas riddle sama dengan gambar bunga di header blogmu! :)

Sekali lagi, terima kasih yaaa. :*

Reading Challenges 2015 – Part II

Masih dalam rangka ikutan reading challenges di tahun 2015, ternyata saya menemukan beberapa RC lagi yang cocok dengan daftar TBR saya tahun ini. Semoga dengan ikutan beberapa RC ini saya bisa kecipratan hadiahnya makin semangat membabat timbunan! :D

nonfiction-reading-challenge-2015Yang pertama adalah Non Fiction Reading Challenge 2015 yang dihost oleh Lensa Buku. Asyiknya RC ini: tidak ada jumlah minimal buku yang harus dibaca, dan tema bebas selama masih masuk kategori nonfiksi.

Kebetulan saya berencana membaca 8 buku nonfiksi selama tahun 2015 (walau nggak janji akan menulis review untuk semuanya sih :D ), sebagai berikut:

  1. Unstoppable – Nick Vujicic
  2. The Last Emperor – Paul Kramer
  3. Sense & Sensuality – Ravi Zacharias
  4. Jesus Among Other Gods – Ravi Zacharias
  5. The Geography of Bliss – Eric Weiner
  6. Battle Hymn of Tiger Mother – Amy Chua
  7. The Diary of a Young Girl – Anne Frank
  8. The Railway Man – Eric Lomax

Dari ke-8 buku diatas, saya menargetkan bisa menulis 5 review. Semoga tercapai!

APHRCMasih bau-bau non fiksi, begitu membaca tentang Asia Pacific History Reading Challenge 2015 yang dihost oleh Blog Buku Helvry, saya langsung tertarik untuk ikutan. Sama seperti Non Fiction RC, Asia Pacific History RC ini tidak mensyaratkan jumlah minimal buku yang harus dibaca & direview, dan untuk mengikuti RC ini juga boleh membaca memoar serta buku fiksi sejarah! Ada 3 buku yang akan saya baca untuk RC ini:

  1. The Last Emperor – Paul Kramer (nonfiksi)
  2. The Railway Man – Eric Lomax (nonfiksi)
  3. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer (fiksi)

lucky-no15Lalu yang terakhir, adalah sebuah RC dengan 15 kategori seru, Lucky no. 15 Reading Challenge yang dihost oleh Books to Share. Ini kali pertama saya ikut RC ini. Berikut ini kategori-kategorinya:

  1. Chunky Brick: Dunia Sophie – Jostein Gaarder (800 halaman adalah bukti keseksian buku ini)
  2. Something New: Good Wives – Louisa May Alcott
  3. Something Borrowed: Iliad – Homer (pinjam dari Mbak Fanda)
  4. It’s Been There Forever: Ben-Hur: A Tale of the Christ – Lew Wallace
  5. Freebies Time: Amba – Laksmi Pamuntjak
  6. Bargain All The Way: Battle Hymn of Tiger Mother – Amy Chua (dibeli dengan harga Rp 20.000)
  7. Favorite Color: The Geography of Bliss – Eric Weiner (blue :) )
  8. First Initial: The Master and Margarita – Mikhail Bulgakov (judulnya pun punya 2 huruf M)
  9. Super Series: Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer (Tetralogi Pulau Buru #1)
  10. Opposites Attract: The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde (a VERY attractive opposite, indeed ;) )
  11. Randomly Picked: no. 7 dari 25 buku yang ada di list TBR 2015, The Last Emperor – Paul Kramer
  12. Cover Lust: Little Women – Louisa May Alcott (nggak beli karena ini buku dari SS 2014, hope that’s okay) – REVIEW
  13. Who Are You Again?: The Poisonwood Bible – Barbara Kingsolver
  14. One Word Only!: Unstoppable – Nick Vujicic
  15. Dream Destination: The Secret Garden – Frances Hodgson Burnett (Yorkshire!!!) – READ

 Nah, kalau kamu juga berminat ikut reading challenges diatas, silakan klik langsung ke masing-masing blog yang menjadi host ya. Cheers!